Wednesday, May 20, 2009
Anak - Anak Ku
Namanya juga anak - anak, mereka terkadang berulah berlebihan dan kadang membikin malu kita, saking nakalnya mereka kadang susah dimengerti apa sih maunya ?
Sungguh walaupun mereka sangat - sangat menjengkelkan tetapi memandanginya disaat mereka terlelap, melihat mereka makan dengan lahapnya, melihat mereka tertawa ceria, merasakan dekapan dan pelukkan mereka, rasa jengkel, rasa capek, semua rasa yang memberatkan hilang dan sirna begitu saja luluh beserta senyum - senyumnya.
Anak - anakku " Kiko & Kitaro", terkadang impian tidak seindah dengan kenyataan. Tetapi hidup tidak untuk hari ini, kita harus bersyukur apa yang telah ada dan apa yang telah didapat oleh papa dan mama mu. Ingin selalu rasanya papa menemanimu, kemana saja dan dimana saja, tetapi papa harus berjuang dan bekerja untuk masadepan mu anak-anakku. Semoga kelak kamu dapat jauh lebih baik dari papa dan mama mu. (amin) Read More..
Wednesday, May 13, 2009
Mengapa Anak Terus Panas-batuk-pilek?
Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 - 3 minggu karena penyakit yang sama: bolak-balik demam, batuk, dan pilek. Tentu banyak orang tua bosan. Mereka menggugat, “Mengapa ini harus terjadi, sedangkan semua kebutuhan anak saya telah dicukupi?”
Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan, karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat, polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung anak mampet, sehingga ia bernafas lewat mulut. Kipas angin dipasang di kamar tidur yang lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat ramai seperti mal. Juga perawat yang sedang batuk - pilek. Tak langka pula kejadian sakit gara-gara anak mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan menggelitik.
Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya.
Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk-pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol (membandingkan dengan plasebo, alias obat bohong) berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950 - 1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.
Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Orang tuanya lalu langsung membeli antibiotik di apotik atau pasar hanya karena setiap kali ke dokter mereka diberi obat tersebut.
Lingkaran setan ini: sakit >> antibiotik >> imunitas menurun >> sakit lagi >>, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Komplikasi juga sering akan terjadi, yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit.
Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk-pilek yang adekuat diberikan), setelah 1 - 3 bulan si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik.
Salah kaprah kedua ialah gejala batuk - pilek yang tidak diobati secara benar; artinya, siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan sering terjadi, batuk - pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan.
Suatu perubahan dalam resep, yang mendasar dan individual, perlu dilakukan untuk memutus lingkaran setan panas-batuk-pilek ini. Yang utama ialah menghentikan antibiotik, tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus, menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, serta memberikan campuran obat pilek yang baru. Efedrin dosis kecil - dicampur dengan antihistamin yang efektif - merupakan obat pilek terbaik. Pseudo-efedrin, fenilpropanolamin, atau etilefrin yang lebih sering dijumpai dalam obat-jadi, tidak lebih baik dari efedrin, walaupun lebih mahal. Semua obat lain yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.
Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Selamat mencoba. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu!
Pencetus baru telah saya temukan diantara beberapa pasien anak. Ternyata orang tua jaman ini sering entertain anaknya di Mal. Kasus pertama, anaknya terus sakit, pun bila sebelumnya sangat sehat. Berikut ini sms-nya berbunyi setelah saya tanyakan “apa yang terjadi sebelumnya?” “Nga ada tanda lain. Tadi siang jam 2 BAB-nya baik, BAK banyak & kuning tua. Dari jam 11 jalan2 di mal (Pl. Senayan) sampai jam 4 sore, dia ngekuh pusing & cape”. Saya menjawab bahwa Mal bukan tempat rekreasi yang sehat; pantesan pulang demam tinggi sampai 2 hari. Dengan hanya parasetamol akhirnya panas hilang dan terus sembuh. Pasien lain cerita hal yang sama, anaknya bermain dengan ayahnya (ibu di rumah karena banyak kerjaan), namun dari jam 10-an sampai jam 9 malam. Berapa banyak orang tua di kota Jakarta ini berbuat demikian untuk ‘mengangin2′-kan anaknya? Sebagian besar akan berakhir dengan panas, batuk, pilek, berak2, dan muntah secara akut. Jelas Mal bukan tempat rekreasi yang sehat, karena penuh dengan virus dan kuman.
Oleh: Prof. Iwan Darmansjah
INTISARI Sept 2002, hal 80-81
Read More..
Tuesday, May 12, 2009
Demam Bukanlah Musuh Yang Harus Diperangi
Saat demam terjadi, pergerakan dan aktivitas sel-sel darah putih yang meningkat, serta terjadinya perubahan bentuk lymphocyt dapat membunuh bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, jumlah interferon, yang merupakan salah satu substansi anti virus dan anti kanker dalam darah, juga akan meningkat dengan adanya demam. Teori tersebut juga didukung oleh sebuah penelitian di laboratorium, pada binatang yang sengaja diinfeksi oleh suatu penyakit. Ternyata dengan meningkatnya suhu tubuh binatang-binatang yang terinfeksi itu, angka kelangsungan hidup mereka semakin meningkat. Sebaliknya dengan menurunkan suhu tubuh ketika terjadi infeksi, malah meningkatkan angka kematian binatang-binatang tersebut.
Hylary Buttler, seorang peneliti dari New Zealand telah mengumpulkan kutipan-kutipan dari berbagai literatur kedokteran yang membuktikan bahwa demam memang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh ketika terjadi infeksi. Sebaliknya pemberian obat penurun panas seperti paracetamol/acetaminophen, aspirin dan ibuprofen malah memberikan pengaruh negatif.
Dalam salah satu kutipan itu disebutkan bahwa pemberian obat penurun panas untuk menurunkan demam akan meningkatkan angka kematian dan kesakitan selama infeksi. Pemberian acetaminophen dinyatakan juga dapat menginduksi terjadinya pneumonia. Selain itu semakin sering memberikan obat penurun panas pada anak dengan penyakit infeksi, ternyata malah akan memperparah dan memperpanjang masa sakitnya. Fakta lain yang lebih penting menginformasikan bahwa obat penurun panas dapat memberikan gejala palsu. Penderita demam yang disangka sedang dalam masa penyembuhan karena panasnya sudah turun, ternyata luput dari observasi dan mengakibatkan penyakitnya berlanjut semakin buruk akibat pemberian obat penurun panas.
Walaupun belum dinyatakan kebenarannya, namun Dr Torres, seorang peneliti senior dari Biomedical Utah State University, memberikan teori baru mengenai penyebab potensial merebaknya kasus autism belakangan ini. Demam yang dihambat dengan pemberian obat penurun panas pada ibu hamil dan anak-anak kecil, dikatakan terlibat sebagai biang kerok terjadinya autism dan neurodevelopmental disorders. Pada akhirnya kerugian pemberian obat penurun panas ini tentu saja berhubungan dengan biaya pengobatan yang seharusnya tidak perlu dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih penting.
Lalu bagaimanakah dengan kebenaran mitos-mitos yang sudah mendarah daging diyakini para orangtua? Dalam bukunya “How To Raise A Healthy Child in Spite of Your Doctor” Dr Robert Mendelsohn yang juga seorang dokter spesialis anak mengatakan, demam tinggi bukanlah penyebab kejang demam. Kejang demam muncul ketika suhu badan meningkat dengan kecepatan yang sangat tinggi dan hal ini umumnya jarang terjadi. Hanya 4 % anak-anak dengan demam tinggi yang demamnya berhubungan dengan kejang. Tidak ditemukan pula bukti-bukti yang menyatakan bahwa setelah kejang demam mereka kemudian mengalami efek serius. Anggapan bahwa pemberian obat penurun panas akan mengurangi kejadian kejang demam pun tidak didasari oleh bukti yang nyata. Karena itu memberikan obat penurun panas kepada semua anak yang mengalami demam, hanya akibat 4% kejadian kejang demam, bukanlah hal yang rasional.
Selain itu demam yang terjadi karena infeksi bakteri atau virus, pada umumnya tidak akan menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik permanen seperti anggapan yang telah dianut selama ini. Demam adalah hal yang biasa terjadi pada anak dan bukan merupakan suatu indikasi penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan penampilan, perubahan tingkah laku atau gejala-gejala tambahan seperti kesulitan bernafas, kaku kuduk atau kehilangan kesadaran. Hanya demam diatas 42,2 derajat C yang telah diketahui dapat menyebabkan kerusakan otak.
Namun tentu saja terdapat perkecualian, yaitu bila demam terjadi pada bayi yang baru lahir. Demam yang terjadi pada bayi di minggu-minggu pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian serius, karena kemungkinan besar infeksi didapat dari proses persalinan, atau pun penyebab lain.
Asumsi yang juga telah sangat diyakini orangtua adalah pernyataan bahwa obat penurun panas akan menyebabkan anak merasa lebih baik, lebih aktif dan meningkatkan nafsu makan. Padahal penelitian membuktikan bahwa tidak ada perbedaan efek yang tampak ketika penderita demam diberi obat penurun panas maupun placebo. Jadi tidak dapat dibedakan apakah keadaan lebih baik yang dirasakan penderita sebetulnya merupakan efek placebo atau efek obat. Tapi bila obat penurun panas dipakai sebagai placebo, artinya placebo yang digunakan merupakan placebo yang sangat berbahaya.
Dari keterangan diatas jelas lah sudah bahwa demam bukanlah musuh yang harus diperangi. Karena itu penggunaan obat penurun panas sebaiknya betul-betul diberikan secara rasional. Beberapa negara bahkan membuat peraturan agar dokter-dokter mereka memberikan obat penurun panas pada pasien, hanya ketika demamnya mencapai 40,5 derajat C atau lebih.
Mengingat pengaruh emosional yang telah begitu mendalam di benak orangtua, merubah perilaku ini tentu menjadi pekerjaan yang teramat sulit. Namun dengan merubah paradigma tentang demam, dan menyadari dampak negatif pemberian obat penurun panas pada anak, diharapkan demam tidak lagi menjadi ‘monster’ yang menyeramkan bagi orangtua. Orangtua tidak lagi perlu buru-buru membeli obat penurun panas di warung dekat rumah, atau pun ‘memaksa’ dokter untuk segera menurunkan demam anak.
Selain itu akan sangat bijaksana pula, bila dokter tidak begitu saja dengan mudah memberikan obat penurun panas tanpa indikasi yang betul-betul perlu. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya keberadaan demam dan dampak negatif menurunkan panas badan ketika anak demam, merupakan tindakan yang lebih rasional. Bila hal ini dilakukan, paling tidak ancaman pengaruh buruk akibat rutinnya penggunaan obat penurun panas terhadap kesehatan anak-anak dikemudian hari, dapat dikurangi. Read More..
Pencegahan dan Pengobatan Diare pada Anak di Rumah
Diare masih merupakan masalah kesehatan nasional karena angka kejadian dan angka kematiannya yang masih tinggi. Balita di Indonesia rata-rata akan mengalami diare 2-3 kali per tahun. Dengan diperkenalkannya oralit, angka kematian akibat diare telah sangat menurun. Namun demikian, balita yang mengalami gizi kurang masih cukup tinggi, yang antara lain dapat merupakan akibat penyakit diare pada anak. Berikut akan dijelaskan secara ringkas mengenai pencegahan dan pengobatan diare di rumah.
Pola buang air besar pada anak
Pada umumnya, anak buang air besar sesering-seringnya 3 kali sehari dan sejarang-jarangnya sekali tiap 3 hari. Bentuk tinja tergantung pada kandungan air dalam tinja. Pada keadaan normal, tinja berbentuk seperti pisang. Dilihat dari kandungan airnya bentuk tinja bervariasi mulai dari “cair” (kadar airnya paling tinggi, biasanya terjadi pada diare akut), “lembek” (seperti bubur), “berbentuk” (tinja normal, seperti pisang), dan “keras” (kandungan air sedikit seperti pada keadaan sembelit). Pada bayi berusia 0-2 bulan, apalagi yang minum ASI, frekuensi buang air besarnya lebih sering lagi, yaitu bisa 8-10 kali sehari dengan tinja yang encer, berbuih dan berbau asam. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.
Warna tinja yang normal adalah kuning kehijauan, tetapi dapat bervariasi tergantung makanan yang dikonsumsi anak. Yang perlu diperhatikan adalah bila tinja berwarna merah (mungkin darah) atau hitam (mungkin darah lama/beku) atau putih seperti dempul (pada penyakit hati).
Kapan disebut diare ?
Anak dinyatakan menderita diare bila buang air besarnya “lebih encer” dan “lebih sering” dari biasanya. Tinja anak diare dapat mengandung lendir dan darah, tergantung pada penyebabnya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya.
Gejala yang timbul akibat penyakit diare
Karena terjadinya mencret dan muntah yang terus menerus, pada awalnya anak akan merasa haus karena telah terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) ringan. Bila tidak ditolong, dehidrasi bertambah berat dan timbullah gejala-gejala: anak tampak cengeng, gelisah, dan bisa tidak sadarkan diri pada dehidrasi berat. Mata tampak cekung, ubun-ubun cekung (pada bayi), bibir dan lidah kering, tidak tampak air mata walaupun menangis, turgor berkurang yaitu bila kulit perut dicubit tetap berkerut, nadi melemah sampai tidak teraba, tangan dan kaki teraba dingin, dan kencing berkurang. Pada keadaan dehidrasi berat nafas tampak sesak karena tubuh kekurangan zat basa (menderita asidosis). Bila terjadi kekurangan elektrolit dapat terjadi kejang.
Prinsip pengobatan diare
Penyakit diare dapat mengakibatkan kematian bila dehidrasi tidak diatasi dengan baik dan dapat mencetuskan gangguan pertumbuhan (kurang gizi) bila tidak diberikan terapi gizi yang adekuat. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh sendiri (self limiting disease) asalkan dicegah terjadinya dehidrasi yang merupakan penyebab kematian. Oleh karena itu, prinsip pengobatan diare adalah:
- Rehidrasi: mengganti cairan yang hilang, dapat melalui mulut (minum) maupun melalui infus (pada kasus dehidrasi berat).
- Pemberian makanan yang adekuat: jangan memuasakan anak, pemberian makanan seperti yang diberikan sebelum sakit harus dilanjutkan, termasuk pemberian ASI. Pada diare yang ringan tidak diperlukan penggantian susu formula.
- Pemberian obat seminimal mungkin. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh tanpa pemberian antibiotik dan antidiare. Bahkan pemberian antibiotik dapat menyebabkan diare kronik.
Pengobatan dimulai di rumah ?
Bila anak menderita diare dan belum menderita dehidrasi, segera berikan minum sebanyak 10 ml per kilogram berat badan setiap kali mencret agar cairan tubuh yang hilang bersama tinja dapat diganti untuk mencegah terjadinya dehidrasi, sehingga mencegah terjadinya kematian. Sebaiknya diberikan cairan oralit yang telah tersedia di pasaran saat ini seperti oralit 200 ml, oralit I liter, Oralit-200 dan Pharolit-200 dan juga larutan oralit siap minum seperti Pedialyte dan Renalyte. Bila tidak tersedia, dapat pula digunakan larutan yang dapat dibuat di rumah seperti larutan garam-gula atau larutan garam-tajin (lihat Tabel 1).
Tabel 1. Cara membuat larutan garam-gula dan larutan garam-tajin
| Larutan Garam-Gula | Larutan Garam-Tajin |
| Bahan terdiri dari 1 sendok teh gula pasir, seperempat sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang. Setelah diaduk rata pada sebuah gelas diperoleh larutan garam-gula yang siap digunakan. | Bahan terdiri dari 6 (enam) sendok makan munjung (100 gram) tepung beras, 1 (satu) sendok teh (5 gram) garam dapur, 2 (dua) liter air. Setelah dimasak hingga mendidih akan diperoleh larutan garam-tajin yang siap digunakan. |
Bila telah terjadi dehidrasi, minumkanlah oralit 50-100 ml (tergantung berat ringannya dehidrasi) per kilogram berat badan dalam 3 jam untuk mengobati dehidrasi dan bila masih mencret oralit terus diberikan seperti di atas, yaitu 10 ml per kilogram berat badan setiap mencret (lihat Tabel 2).
Bagaimana mengetahui keadaan anak membaik dan tidak perlu dibawa ke dokter? Tentu saja dengan melihat adanya perbaikan dari gejala-gejala yang disebutkan di atas. Kesadaran anak membaik, rasa hausnya akan menghilang, mulut dan bibirnya mulai membasah, kencing banyak, dan turgor kulit perutnya membaik.
Kapan dirujuk ke puskesmas atau dokter ?
Anak dirujuk ke puskesmas atau dokter bila:
- Muntah terus menerus sehingga diperkirakan pemberian oralit tidak bermanfaat
- Mencret yang hebat dan terus menerus sehingga diperkirakan pemberian oralit kurang berhasil
- Terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, turgor kurang, tangan dan kaki dingin, tidak sadar).
Pencegahan diare
Diare umumnya ditularkan melaui 4 F, yaitu Food, Feces, Fly dan Finger. Oleh karena itu upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. Beberapa upaya yang mudah diterapkan adalah:
- Penyiapan makanan yang higienis
- Penyediaan air minum yang bersih
- Kebersihan perorangan
- Cuci tangan sebelum makan
- Pemberian ASI eksklusif
- Buang air besar pada tempatnya (WC, toilet)
- Tempat buang sampah yang memadai
- Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan
- Lingkungan hidup yang sehat
Tabel 2. Pengobatan diare di rumah
| Derajat dehidrasi | Jenis cairan | Jumlah cairan | Jadwal pemberian |
| Belum dehidrasi |
|
|
|
| Dehidrasi ringan |
|
|
|
| Dehidrasi sedang |
|
|
|
| Dehidrasi berat | Segera dibawa ke Puskesmas atau RS karena anak perlu mendapat infus | ||
Penutup
Diare pada anak dapat menyebabkan kematian dan gizi kurang. Kematian dapat dicegah dengan mencegah dan mengatasi dehidrasi dengan pemberian oralit. Gizi kurang dapat dicegah dengan pemberian makanan yang memadai selama berlangsungnya diare. Peran obat-obatan tidak begitu penting dalam menangani anak dengan diare. Pecegahan dan pengobatan diare harus dimulai di rumah.
Read More..
Keluhan Di Tenggorokan
BISA KARENA INFEKSI, IRITASI & ALERGI
Jangan pernah abaikan radang atau sakit pada tenggorokan karena dampaknya bisa menyebar ke mana-mana.
Jika sakit di bagian tenggorokan, batuk, susah bernapas, dan kadang disertai demam, pastilah kita menyebutnya radang tenggorokan. Padahal, seperti dijelaskan Dr. Cita H. Murjantyo, Sp.THT, dari RS Internasional Bintaro, jika seseorang datang dengan keluhan tersebut, ada 3 bagian atau organ sekitar tenggorokan yang harus diwaspadai. “Yaitu tenggorokan (faring) sendiri, adenoid yang berada di belakang hidung, dan sepasang amandel di kiri dan kanan tenggorokan (tonsil palatina).”
RADANG TENGGOROKAN
Ada tiga penyebab radang tenggorokan. Masing-masing karena infeksi, iritasi, dan alergi. Gejalanya dapat berupa rasa sakit di bagian tersebut, susah menelan, susah bernapas, batuk, dan demam. “Ada kalanya terjadi pembengkakan di leher,” ujar Cita.
Infeksi yang menyebabkan radang tenggorokan, lanjutnya, bisa bersumber dari 3 hal, yakni kesehatan mulut dan gigi, amandel sebagai sumber infeksi, dan sinusitis. Kurang menjaga kebersihan bagian mulut, khususnya gigi, dapat menyebabkan radang tenggorokan. Gigi yang busuk atau berlubang menjadi tempat berkumpulnya kuman. Kuman inilah yang kemudian masuk ke dalam tenggorokan dan menyebabkan infeksi. “Untuk mencegahnya, harus rajin menjaga kebersihan mulut dan gigi. Kalau ada gigi yang busuk atau berlubang, harus langsung ditangani. Misalnya, ditambal atau dicabut.”
KLIK - DetailInfeksi pada amandel juga dapat menyebabkan terjadinya radang tenggorokan. Amandel sebenarnya sangat berfungsi pada anak usia 4 10 tahun karena ia merupakan bagian dari pertahanan tubuh. Terutama pernapasan bagian atas. Amandel yang sudah tidak berfungsi lagi akan menjadi tempat berkumpulnya kuman sehingga menyebabkan infeksi pada tenggorokan. (lihat bagian radang amandel).
Sumber ketiga penyebab infeksi tenggorokan adalah sinusitis. “Setiap orang punya beberapa pasang organ yang disebut sinus paranasal, ada di pipi, di dekat mata, di dahi, dan di dekat otak. Jika organ ini meradang, itu yang disebut sinusitis,” terang Cita. Pada orang dengan sinusitis kronis, lendir akan terus-menerus mengalir di belakang tenggorokan dan hidung. Hal ini menimbulkan iritasi ke tenggorokan dan menyebabkan radang.
Radang tenggorokan karena infeksi harus ditangani dengan menyembuhkan sumbernya. “Kalau infeksinya karena gigi, ya, giginya yang ditangani. Demikian juga amandel dan sinusitis. Jika radang tenggorokannya diobati, namun gigi, amandel, atau sinusitis sebagai sumber infeksi tidak ditangani, ya, percuma. Radang tenggorokannya akan kembali lagi, berulang terus,” ungkap Cita.
Selain kuman, radang tenggorokan juga dapat terjadi karena virus, yaitu saat pilek dan flu. Namun, radang tenggorokan akibat pilek dan flu akan hilang dengan sendirinya, seiring sembuhnya penyakit tersebut. “Flu ringan dapat berlomba dengan daya tahan tubuh. Artinya, kalau daya tahan tubuh bagus, dia akan membuat pagar sendiri sehingga tidak selalu perlu antibiotik. Tapi, kalau lebih dari seminggu radang tenggorokan yang menyertai flu tidak hilang, apalagi jika ditambah suara serak, bisa dikategorikan serius. Radang bisa turun ke pita suara,” jelas Cita.
Radang tenggorokan karena kuman dapat menular melalui ludah, sedangkan yang disebabkan virus lewat udara. “Jadi, hati-hati dan perhatikan sekitars apakah ada yang sedang mengalami radang tenggorokan.”
IRITASI & ALERGI
Iritasi juga bisa menjadi biang keladi radang tenggorokan. Hal ini disebabkan makanan yang masuk, yaitu makanan yang terlalu pedas, terlalu asam, terlalu panas atau dingin, dan makanan-makanan yang terlalu bergetah. “Makanan bergetah, contohnya buah-buahan. Jadi, tidak semua buah-buahan aman, khususnya pada mereka yang punya alergi, karena justru dapat membuat iritasi pada tenggorokan.” Untuk mencegahnya, “Sebaiknya tidak makan buah-buahan dalam jumlah terlalu banyak.”
Iritasi juga sering terjadi pada mereka yang bekerja di lingkungan pabrik. Instalasi zat kimia yang dihirup bisa menyebabkan iritasi dan radang pada tenggorokan. Oleh sebab itu, penting sekali memakai masker.
Sementara alergi merupakan reaksi hipersensitif bagi orang yang memilikinya. Alergi dapat disebabkan bermacam hal, seperti makanan dan minuman, obat-obatan tertentu, cuaca, dan debu. Zat yang menyebabkan alergi disebut alergen. Jika alergen masuk ke dalam tubuh penderita alergi, tubuh pun akan mengeluarkan zat-zat yang menyebabkan alergi. Akibatnya, timbul reaksi-reaksi tertentu, seperti gatal-gatal atau batuk-batuk.
Alergi terhadap suatu makanan dapat menyebabkan reaksi sakit pada tenggorokan. Selain itu, radang tenggorokan sering dialami mereka yang alergi terhadap jenis buah-buahan tertentu dan olahannya, semisal jus. “Hati-hati, tidak semua jus aman bagi orang-orang yang mengalami radang tenggorokan berulang karena alergi. Sering batuk dan sakit tenggorokan. Paling sering justru pada jus tomat.”
Minyak goreng bekas juga sering menjadi penyebab alergi dan mengakibatkan radang tenggorokan. “Orang yang alergi terhadap minyak goreng bekas harus selalu mengganti minyak setiap kali akan menggoreng.”
Alergi tidak dapat diobati karena sudah merupakan bawaan dari lahir. Cara yang paling baik untuk menghindari reaksi alergi adalah dengan menghindari penyebabnya dan meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh. “Semakin bagus daya tahan tubuh, semakin rendah kadar kepekaan yang menyebabkan reaksi alergi.”
Read More..
Imunisasi Influenza Untuk Anak, Ternyata Penting lho ..
Daftar imunisasi untuk kedua anakku memang sangat buanyak sekali, memang sih kita harus merogoh kocek lumayan buanyak untuk itu, tapi ibarat pepatah bilang “sedia payung sebelum hujan”, “lebih baik mencegah dari pada mengobati”, aku pikir itu adalah jalan yang lebih arif demi dua buah hati ku ” kiko dan Kitaro”. salah satunya adalah imunisasi Influenza, dan setelah aku baca2 di internet imunisasi ini memang di anjurkan oleh IDAI (ikatan dokter anak indonesia) ini penjelasannya :
I.1. Latar Belakang
Di negara berkembang penyebab kematian terbesar adalah penyakit infeksi. Salah satu usaha pencegahan terhadap timbulnya penyakit infeksi adalah dengan melaksanakan imunisasi. Dari segi ekonomi, pencegahan adalah suatu cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati.
Imunisasi merupakan upaya pencegahan primer yaitu upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat. World Bank menyatakan imunisasi harus menjadi investasi pertama program kesehatan masyarakat bagi pemerintah di seluruh dunia karena merupakan intervensi kesehatan yang paling menguntungkan dari segi biaya. Dan perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi tidak hanya memberikan pencegahan terhadap orang yang diimunisasi, tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan imunitas secara umum di masyarakat.
Di Indonesia sudah digalakkan program imunisasi terutama pada anak yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Di samping itu banyak usaha imunisasi lain yang tidak termasuk dalam PPI (non PPI), salah satunya adalah imunisasi influenza. Imunisasi influenza merupakan salah satu strategi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit influenza. Keuntungan terbesar imunisasi ini adalah bagi orang yang memiliki risiko tinggi menderita influenza berat dan komplikasinya.
Penyakit influenza merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan epidemi maupun pandemi. Di negara subtropis angka kejadian influenza meningkat bahkan dapat menyebabkan kejadian luar biasa hampir setiap musim dingin tiba. Di Amerika Serikat, influenza menyebabkan ±20.000 kematian per tahun. Kelompok penderita influenza terbanyak adalah anak-anak, tetapi komplikasi dan kematian tertinggi terjadi pada orang usia >65 tahun dan orang yang memiliki risiko tinggi. Di Jepang, pelaksanaan program imunisasi influenza pada anak sekolah mencegah 37.000-49.000 kematian per tahun, atau sekitar 1 kematian untuk setiap 420 anak yang diimunisasi. Program tersebut juga mengurangi angka transmisi infeksi dalam masyarakat.1-3
Pada anak usia 0-4 tahun, angka rawat inap rumah sakit adalah 1:1000 anak sehat dan 1:2000 anak dengan penyakit dasar. Angka rawat inap rumah sakit pada bayi sama dengan orang usia >65 tahun. Rata-rata rawat inap akibat influenza adalah 114.000 per tahun, >50% pasien adalah usia <65>65 tahun, anak-anak kecil, dan orang dengan penyakit dasar inilah yang mendorong Advisory Committe on Immunization Practices (ACIP) terakhir pada tahun 2002 menyusun rekomendasi mengenai imunisasi influenza.1,2
Imunisasi influenza cukup bermanfaat, namun sosialisasi penerapan imunisasi ini di masyarakat hanya sedikit meningkatkan penggunaan vaksin. Penyakit influenza oleh banyak orang dianggap penyakit yang ringan, sedangkan influenza pada kelompok risiko tinggi dapat menyebabkan komplikasi dan kematian. Setelah menyadari keadaan ini, maka pada tahun 1999 American Family of Physician (AFP) menurunkan umur penggunaan imunisasi mulai pada usia 50 tahun sedangkan The Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP) juga merekomendasikan imunisasi dimulai pada usia 50 tahun.1
I.2. Permasalahan
Di Indonesia imunisasi influenza sudah dilakukan, namun pemberiannya masih terbatas kepada para jamaah haji sebelum berangkat ke Arab Saudi, sesuai dengan anjuran dari Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI pada tahun 2000. Imunisasi influenza pada jamaah haji hanya dianjurkan pada kelompok berisiko tinggi tertentu saja, seperti jamaah usia >65 tahun, memiliki penyakit jantung, paru kronik, diabetes mellitus dan jamaah yang sistem imunnya terganggu.
Sampai saat ini belum terdapat laporan resmi regional maupun nasional mengenai insidens, angka morbiditas dan mortalitas influenza karena sebagian besar orang masih menganggap bahwa influenza merupakan penyakit yang ringan. Imunisasi influenza masih merupakan suatu kontroversi baik dari waktu pemberian, sasaran pemberian maupun cost effectiveness bila diterapkan di Indonesia.
Dalam rekomendasi yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam Buku Imunisasi di Indonesia, imunisasi diberikan pada anak dengan kelainan jantung bawaan serta penyakit kronik lainnya, serta yang mendapat terapi imunosupresif. Konsensus Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menganjurkan penggunaan imunisasi influenza pada orang yang berusia 50 tahun atau lebih atau pada orang lebih muda yang mempunyai penyakit kronik. Hal itulah yang mendorong dilakukannya kajian tentang imunisasi influenza bagi anak dan dewasa, sebagaimana himbauan WHO kepada negara yang belum memiliki kebijakan nasional imunisasi influenza tentang pengaruh epidemi influenza terhadap perekonomian sebagai dasar menetapkan kebijakan pencegahan influenza.
II.1. Etiologi
Virus influenza adalah virus RNA, termasuk famili Orthomyxovirus, berantai tunggal dan berbentuk heliks. Sesuai dengan antigen dasarnya dibagi menjadi tiga tipe yaitu A, B dan C. Virus ini dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan antigen permukaannya yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Tiga tipe hemaglutinin yang ada pada manusia (H1, H2, H3) berperan dalam penempelan virus pada sel. Dua tipe neuraminidase (N1, N2) berperan dalam penetrasi virus ke dalam sel.1,2,4-10 Variasi kedua glikoprotein eksternal H dan N, adakalanya berubah secara periodik, hal ini menyebabkan perubahan antigenitas. Antigenic shift merupakan perubahan besar (major) salah satu antigen permukaan (H atau N), yang dapat menyebabkan pandemi. Antigenic drift merupakan perubahan kecil (minor) pada antigen permukaan yang timbul diantara major shift dan bisa dihubungkan dengan epidemi (Pickering dkk., 2000).1,2, 4-12
Infuenza tipe A menyebabkan penyakit sedang-berat dan dapat menyerang semua umur. Virus ini menyerang manusia dan binatang lain, seperti babi dan burung. Influenza tipe B biasanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada tipe A, dan terutama menyerang anak-anak. Influenza tipe B lebih stabil daripada influenza tipe A, dengan sedikit antigenic drift dan menyebabkan imunitas yang cukup stabil. Virus ini hanya menyerang manusia. Influenza tipe C dilaporkan jarang menyebabkan sakit pada manusia, kemungkinan karena sebagian besar kasus bersifat subklinis dan tidak menyebabkan epidemi.1,2,4-12
Virus influenza mempunyai kemampuan untuk merubah antigen. Perubahan antigen ini sering terjadi pada influenza tipe A, tetapi kurang pada tipe B, dan tidak pernah pada tipe C. Perubahan ini terjadi pada antigen permukaannya yaitu H dan N.
Terdapat dua macam mutasi tergantung besar atau kecilnya perubahan RNA, yaitu:
Antigenic shift, hanya terjadi pada influenza tipe A; perubahan genetik yang besar dan mendadak pada HA dan/atau NA; tidak ada imunitas di masyarakat; mengakibatkan pandemi setiap 10-40 tahun sekali Antigenic drift, hanya terjadi pada influenza tipe A dan B; terjadi setiap 1 atau beberapa tahun dalam satu subtipe; mutasi p2222ada asam amino RNA; tidak menghasilkan subtipe baru; dan dapat menyebabkan terjadinya epidemi
Nomenklatur untuk mendeskripsikan tipe virus influenza adalah berurutan sebagai berikut: (1) tipe virus, (2) tempat dimana virus pertama kali diisolasi, (3) nomor strain, (4) tahun isolasi, (5) subtipe virus.1,2
II.2. Epidemiologi
Influenza timbul di seluruh bagian dunia dan mengenai 10-20% dari total populasi dunia. Manusia adalah satu-satunya reservoir untuk influenza tipe B dan C, sedangkan influenza tipe A dapat menginfeksi manusia dan binatang. Tidak ada yang disebut sebagai karier kronik. Influenza ditularkan melalui droplet dari orang yang terinfeksi. Cara penularan lain yang jarang adalah melalui kontak erat.1,2,4,5
Aktivitas influenza timbul terutama pada musim dingin dan mencapai puncaknya dari Desember sampai Maret di daerah yang beriklim subtropis, tetapi dapat pula timbul lebih awal atau lebih lambat. Selama tahun 1976-2001, di Amerika Serikat aktivitas puncak timbul paling sering pada bulan Januari (24%) dan Februari (40%) dan rata-rata terjadi 20.000 kematian per tahun. Pada daerah tropis influenza dapat timbul setiap saat selama setahun. 1,2
Influenza juga dapat menyebabkan pandemi bila angka morbiditas dan mortalitas komplikasi akibat influenza meningkat secara bermakna di seluruh dunia. Influenza dapat menyerang semua kelompok umur. Angka kejadian infeksi tertinggi adalah pada anak-anak, sedangkan angka kejadian penyakit serius dan kematian tertinggi adalah pada orang usia ≥65 tahun dan orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza.1,2 Pada anak usia 0-4 tahun, angka perawatan rumah sakit adalah 1:2000 orang yang berisiko tinggi dan 1:1000 orang yang tidak berisiko tinggi. Dalam kelompok usia 0-4 tahun, angka perawatan rumah sakit tertinggi adalah anak umur 0-1 tahun dan angka ini sama dengan angka yang ditemukan pada orang usia ≥65 tahun.1,2
Selama epidemi influenza tahun 1969-1970 sampai 1994-1995, angka perawatan rumah sakit di Amerika Serikat berkisar antara 16.000 sampai 220.000 per epidemi, rata-rata 114.000 per tahun perawatan, dengan 57% dari yang dirawat adalah usia <65>150 kematian per 100.000 orang usia ≥65 tahun. Lebih dari 90% kematian adalah orang lanjut usia karena pneumonia dan influenza. 1,2
II.3. Patogenesis
Virus influenza masuk ke dalam saluran napas melalui droplet, kemudian menempel dan menembus sel epitel saluran napas di trakea dan bronkus. Infeksi dapat terjadi bila virus menembus lapisan mukosa non-spesifik saluran napas dan terhindar dari inhibitor non-spesifik serta antibodi lokal yang spesifik. Daerah yang diserang adalah sel epitel silindris bersilia. Selanjutnya terjadi edema lokal dan infiltrasi oleh sel limfosit, histiosit, sel plasma dan polimorfonuklear. Nekrosis sel epitel ini terjadi pada hari pertama setelah gejala timbul. Perbaikan epitel dimulai pada hari ke-3 dan ke-5 dengan terlihatnya mitosis sel pada lapisan basal. Respons pseudometaplastik dari epitelium yang undifferentiated timbul. Puncaknya dicapai pada hari ke–9 sampai ke-15 setelah awitan penyakit. Setelah 15 hari, tampak produksi mukus dan silia kembali seperti sediakala. Adanya infeksi sekunder menyebabkan reaksi infiltrasi sel radang lebih luas dan kerusakan pada lapisan sel basal dan membrana basalis lebih hebat, yang akan mengakibatkan terhambatnya regenerasi sel epitel bersilia.8 Kemudian virus bereplikasi di dalam sel pejamu yang menyebabkan kerusakan sel pejamu. Viremia tidak terjadi. Virus terlindung di dalam sekret dari saluran napas selama 5-10 hari.1
II.4. Manifestasi Klinis
Masa inkubasi biasanya hanya 2 hari, tetapi dapat bervariasi antara 1 sampai 5 hari. Tingkat keparahan influenza tergantung pada riwayat imunologik terdahulu dengan antigen varian virus. Secara umum, hanya 50% dari orang yang terinfeksi influenza akan timbul gejala klinis klasik influenza.
Penyakit influenza klasik ditandai dengan demam, mialgia, sakit tenggorokan, dan batuk yang tidak produktif secara tiba-tiba. Demam berkisar antara 38,3-38,9°C. Gejala demam muncul secara mendadak sehingga pasien dapat memberitahukan waktu yang tepat kapan demam muncul. Mialgia terutama dirasakan di otot punggung. Batuk terjadi sebagai akibat destruksi epitel trakea. Gejala tambahan lain dapat berupa rinorea, sakit kepala, rasa terbakar substernal dan gejala okular (nyeri dan sensitif terhadap cahaya).1,2,8
Gejala sistemik dan demam biasanya berlangsung selama 2–3 hari, jarang yang lebih dari 5 hari. Gejala akan berkurang dengan pemberian asetosal atau asetaminofen. Asetosal tidak boleh diberikan pada bayi, anak-anak, maupun remaja karena risiko terjadinya sindrom Reye setelah infeksi influenza. Penyembuhan biasanya cepat, tetapi beberapa orang akan menjadi astenia dan depresi selama beberapa minggu.1,2,8
II.5. Diagnosis
Diagnosis influenza ditegakkan berdasarkan karakteristik manifestasi klinis, terutama jika telah dilaporkan adanya influenza dalam masyarakat. Pemeriksaan laboratorium rutin kurang berperan dalam menegakkan diagnosis banding influenza dengan penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus lain. Pada anak, manifestasi pemeriksaan darah bervariasi, bahkan pada bayi tampak gambaran leukositosis. Foto toraks bermanfaat untuk menyatakan adanya penyulit pneumonia lobaris atau interstisial.1,2,8
Diagnosis pasti influenza bergantung pada isolasi atau deteksi komponen virus dari sekret saluran napas atau adanya kenaikan yang bermakna titer antibodi serum pada masa penyembuhan. Diagnosis serologik yang cukup menjanjikan adalah pengukuran antibodi terhadap hemaglutinin influenza dengan menggunakan metode ELISA. Uji ini sederhana dan mempunyai kelebihan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgA, IgM dan IgG.1,2,8
II.6. Komplikasi
Komplikasi sering terjadi pada bayi, anak kecil, anak dengan risiko tinggi dan orang lanjut usia. Komplikasi yang paling sering adalah pneumonia, terutama pneumonia bakteri (karena Streptoccocus pneumoniae, Haemophilus infuenzae, atau Staphyloccus aureus). Pneumonia virus primer merupakan komplikasi yang jarang ditemui namun tingkat fatalitasnya tinggi. Sindrom Reye adalah komplikasi yang mungkin timbul pada anak yang mendapatkan asetosal, terutama berhubungan dengan influenza tipe B, ditandai dengan muntah yang berat dan penurunan kesadaran sampai koma karena edema otak. Komplikasi lain adalah miokarditis, perburukan bronkitis kronik dan penyakit paru kronik lainnya. Angka kematian adalah 0,5–1 per 1000 kasus. Sebagian besar kematian terjadi pada usia ≥65 tahun.1,2,4-10
IV.1. Karakteristik
Vaksin influenza yang tersedia di Amerika Serikat berisi virus influenza inaktif. Terdapat empat macam vaksin yaitu whole-killed virus, attenuated-live virus, split-virus dan disrupted-virus vaccine. Hanya vaksin disrupted dan split virus yang tersedia di Amerika Serikat. Vaksin ini disiapkan dengan menggunakan pelarut organik atau detergen. Split vaksin menyebabkan reaksi samping yang lebih sedikit dibandingkan whole-killed virus vaccine. Selama 20 tahun terakhir telah dikembangkan jenis vaksin lain yaitu cold attenuated live vaccine. Vaksin ini digunakan secara luas di Rusia untuk orang dewasa.1,2,4-12
Formula vaksin influenza diperbaharui tiap tahun sehingga perubahan komposisi dapat dilakukan menyesuaikan dengan antigenic shift dan antigenic drift. Saat ini vaksin influenza yang tersedia mengandung tiga virus inaktif yaitu dua tipe A (H3N2 dan H1N1) dan satu tipe B. Vaksin ini mengandung 15 ug antigen hemaglutinin masing-masing strain virus per 0,5 ml. Selain itu vaksin influenza juga mengandung thimerosal sebagai pengawet dan protein telur. Vaksin influenza yang tersedia di dunia ada dalam berbagai nama dagang antara lain Fluvax®-CSL, Vaxigrip®-AP, Fluarix®-GSK, Fluvirin®-Medeva Agripal-Chiron, sebagian sudah terdaftar di Indonesia.4
Terdapat dua tipe vaksin yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu untuk belahan bumi Utara dan Selatan. Komposisi vaksin influenza utara dan selatan untuk musim influenza November 2003 - April 2004 (belahan bumi Utara) dan Mei 2003 - Oktober 2003 (belahan bumi Selatan) harus terdiri dari strain A/New Caledonia/20/99(H1N1)-like virus, A/Moscow/10/99(H3N2)-like virus dan B/HongKong/330/2001-like virus.14
IV.2. Kelompok Target
Orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi karena infeksi influenza, yaitu: orang berusia ≥65 tahun, orang yang tinggal menetap pada rumah perawatan dan fasilitas perawatan jangka panjang lainnya yang merawat orang dengan penyakit kronik, dewasa dan anak-anak dengan kelainan kronik sistem pernapasan atau kardiopulmonal, termasuk asma, dewasa dan anak-anak yang memerlukan pemeriksaan medis teratur atau perawatan rumah sakit sebelumnya akibat penyakit metabolik kronik (termasuk diabetes mellitus), disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau imunosupresan (termasuk imunosupresan karena obat-obatan, virus HIV), anak-anak dan remaja (usia 6 bulan–18 tahun) yang mendapat terapi asetosal jangka panjang, yang mungkin berisiko menderita sindrom Reye setelah infeksi influenza, wanita yang memasuki usia kehamilan trimester kedua atau ketiga pada saat musim influenza.1,2,4-11
Orang usia <65>karena dalam kelompok ini prevalensi orang yang berisiko tinggi meningkat, dan masih rendahnya angka imunisasi. Strategi imunisasi berdasarkan umur lebih berhasil meningkatkan cakupan vaksin daripada berdasarkan kondisi medis. Orang usia 64 tahun tanpa risiko tinggi juga mendapat keuntungan dari imunisasi, yaitu penurunan angka sakit influenza, penurunan absensi kerja, dan penurunan kunjungan berobat dan pengobatan. Sedangkan usia 50 tahun merupakan usia dimana pelayanan pencegahan lain dimulai, sedangkan penilaian rutin imunisasi dan pelayanan pencegahan lain telah direkomendasikan.1,2,4-11
Orang yang dapat menularkan influenza kepada orang dengan risiko tinggi. Orang yang terinfeksi baik secara klinis maupun subklinis dapat menularkan virus influenza kepada orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza. Mengurangi penularan influenza dari perawat kepada orang dengan risiko tinggi dapat mengurangi kematian yang berhubungan dengan influenza diantara orang dengan risiko tinggi.
Kelompok yang sebaiknya diimunisasi adalah:
Ø Dokter, perawat, dan tenaga lain di rumah sakit dan rawat jalan, termasuk tenaga di gawat darurat (seperti paramedis dan teknisi)
Ø Karyawan rumah perawatan dan fasilitas perawatan jangka panjang yang kontak erat dengan pasien atau orang yang tinggal
Ø Karyawan yang membantu atau tinggal dengan orang yang termasuk kelompok risiko tinggi
Ø Orang yang menyediakan perawatan rumah kepada orang yang termasuk kelompok risiko tinggi
Ø Anggota keluarga (termasuk anak-anak) dari orang yang termasuk kelompok risiko tinggi
Karena anak usia 0-23 bulan berisiko tinggi dirawat akibat influenza, imunisasi dianjurkan bagi orang yang kontak erat dengannya, terutama yang kontak dengan bayi usia 0-5 bulan karena vaksin influenza belum dibuktikan penggunaannya bagi usia <6>Food and Drug Administration.1,2,4-11
Imunisasi untuk populasi spesifik
· Wanita hamil
Karena meningkatnya risiko komplikasi yang berhubungan dengan influenza, wanita yang usia kehamilannya di luar trimester pertama (>14 minggu usia kehamilan) selama musim influenza sebaiknya diimunisasi. Pada trimester pertama kehamilan sebaiknya tidak diberikan imunisasi.1,2
· Orang dengan HIV
Pemberian vaksin influenza inaktif pada orang yang terinfeksi HIV yang memiliki gejala gejala AIDS minimal dan hitung sel limfosit-T CD4+ >200 menunjukkan adanya titer antibodi substansial melawan influenza .1,2
· Ibu menyusui
Vaksin influenza aman dan efektif untuk ibu menyusui dan tidak berpengaruh terhadap bayinya.1,2
· Orang yang bepergian
Risiko terpajan influenza selama bepergian tergantung pada waktu dan tujuan. Orang dengan risiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza yang akan bepergian ke daerah yang sedang musim dingin sebaiknya diimunisasi.
IV.3. Jadwal dan Cara Pemberian
Vaksin influenza diberikan secara intramuskular di otot deltoid pada orang dewasa dan anak yang lebih besar sedangkan untuk bayi dapat diberikan di paha anterolateral.1,2,4-10 Vaksin diberikan dua kali, dengan interval minimal 4 minggu, pada anak usia >9 tahun diberikan satu kali selanjutnya diulang sekali setiap tahun. Pada anak atau dewasa dengan gangguan imun, diberikan 2 dosis setiap tahun dengan interval minimal 4 minggu, untuk mendapatkan antibodi yang memuaskan. Berikut ini adalah jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh berbagai negara di dunia (Tabel 1, 2, 3).
Tabel 3. Dosis imunisasi influenza di Australia4
| Umur | Dosis | Jumlah dosis |
| 6 bulan - 2 tahun | 0,125 ml | 1 atau 2* |
| 2 - 6 tahun | 0,25ml | 1 atau 2* |
| 6 - 9 tahun | 0,5 ml | 1 atau 2* |
| >9tahun | 0,5 ml | 1 |
* Dosis kedua minimal berjarak 1 bulan dari dosis pertama direkomendasikan bagi anak umur <9>
Tabel 4. Dosis imunisasi influenza di Kanada5
| Kelompok Umur | Tipe vaksin | Dosis vaksin | Jumlah dosis |
| 6 - 35 bulan | Split virus | 0,25 ml | 1 atau 2* |
| 3 - 8 tahun | Split virus | 0.5 ml | 1 atau 2* |
| ≥ 9 tahun | Split virus | 0.5 ml | 1 |
* Anak umur <9>
Tabel 5. Dosis imunisasi influenza di Amerika Serikat2
| Kelompok Umur | Produk | Dosis vaksin | Jumlah dosis |
| 6 – 35 bulan | Split virus | 0.25 ml | 1 * atau 2 |
| 3 – 8 tahun | Split virus | 0.50 ml | 1* atau 2 |
| ≥ 9 tahun | Split virus | 0.50 ml | 1 |
* Hanya perlu satu dosis saja bila sebelumnya telah menerima vaksin influenza pada musim influenza sebelumnya.
Di negara subtropis, seperti Australia dan Amerika Serikat, waktu imunisasi yang paling tepat adalah pada musim gugur untuk mengantisipasi kejadian luar biasa (outbreaks) influenza pada musim dingin, tetapi imunisasi pula dapat dilakukan pada bulan Februari. Pada musim gugur kesempatan memberikan imunisasi pada orang yang memiliki risiko tidak boleh terlewatkan bila mereka rajin mengunjungi tempat pelayanan kesehatan. Imunisasi dapat diberikan pada orang dewasa atau anak-anak bahkan setelah adanya aktivitas virus influenza dalam komunitas karena perlindungan dapat dicapai dalam beberapa hari.1,2,4-10
Vaksin influenza dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain termasuk vaksin pneumonia dan semua vaksin yang dijadwalkan untuk anak. Orang dewasa yang telah diimunisasi akan timbul titer antibodi yang cukup memberikan perlindungan terhadap strain virus yang ada di dalam vaksin maupun strain virus lainnya yang masih berhubungan.1,2,4-10
IV.4. Efektivitas
Efektivitas vaksin influenza terutama bergantung pada umur dan status imun penerima, dan derajat kesamaan antara strain virus dalam vaksin dengan jenis virus yang beredar. Sebagian besar anak dan dewasa mempunyai kadar titer antibodi hemaglutinin inhibisi yang cukup tinggi setelah imunisasi. Titer antibodi ini memberikan perlindungan terhadap penyakit yang disebabkan oleh strain virus yang sama dengan vaksin.1
Bayi umur 6 bulan dapat mempunyai titer antibodi yang protektif setelah imunisasi influenza walaupun respons antibodi di antara anak-anak yang berisiko tinggi adalah lebih rendah daripada respons antibodi anak-anak sehat. Pada penelitian randomisasi di antara anak umur 1-15 tahun, vaksin influenza inaktif 77-91% efektif melawan sakit saluran napas akibat influenza, 44-49% efektif pada anak umur 1-5 tahun, 74-76% pada anak umur 6-10 tahun, dan 70-81% pada umur 11-15 tahun. Suatu penelitian melaporkan efikasi vaksin dalam melawan sakit influenza pada anak sehat umur 3-9 tahun adalah 56%. Penelitian lain melaporkan efikasi vaksin untuk anak dengan asma adalah 22-54% pada umur 2-6 tahun dan 60-78% pada umur 7-14 tahun. Penelitian 2-year randomized pada anak umur 6-24 bulan melaporkan bahwa 89% anak mempunyai serokonversi terhadap ketiga strain vaksin selama dua tahun, efikasi vaksin 66% (95%CI = 34% dan 82%) pada tahun pertama diantara 411 anak dan 7% (95% CI= -247 dan 67%) pada tahun kedua diantara 375 anak.1
Bila kesamaan antara virus dalam vaksin dan yang beredar cukup dekat, maka vaksin influenza 70-90% efektif pada orang sehat umur <65>1,2,4,5
Pada orang usia lanjut dan orang dengan penyakit kronik memiliki titer antibodi pasca imunisasi lebih rendah daripada dewasa muda sehat dan dapat tetap rentan terhadap infeksi saluran napas atas yang berhubungan dengan influenza. Satu penelitian randomisasi di antara orang usia ≥60 tahun melaporkan efektivitas vaksin 58% melawan sakit saluran napas akibat influenza. Efektivitas vaksin mungkin lebih rendah pada orang umur ≥70 tahun. Vaksin juga dapat efektif dalam mencegah komplikasi sekunder dan mengurangi risiko perawatan rumah sakit dan kematian akibat influenza. Di antara orang usia lanjut yang tinggal di luar rumah perawatan atau fasilitas perawatan jangka panjang lainnya vaksin influenza 30-70% efektif mencegah perawatan rumah sakit akibat pneumonia dan influenza. Di antara orang usia lanjut yang tinggal di rumah perawatan, vaksin influenza paling efektif mencegah penyakit berat, komplikasi sekunder dan kematian. Di antara populasi tersebut, vaksin 50-60% efektif dalam mencegah perawatan rumah sakit atau pneumonia dan 80% dalam mencegah kematian, sedangkan efektivitas dalam mencegah penyakit influenza berkisar 30-40%.1
Penelitian pada jemaah haji Pakistan pada tahun 1999 (The incidence of vaccine-preventable influenza –like illness and medication use among Pakistan pilgrims to The Haj in Saudi Arabia) berjumlah 2070 subyek menunjukkan efektivitas hanya sebesar 38%. Penelitian lain dikalangan jamaah haji Malaysia pada tahun 2000 (A Case-control study of infuenza vaccine efficacy among Malaysia pilgrim attending the Haj in Saudi Arabia) yang mencakup 1420 subyek menunjukkan efektivitas sebesar 77%.13
IV.5. Cost-effectiveness
Vaksin influenza dapat mengurangi biaya perawatan kesehatan dan produktivitas yang hilang karena sakit influenza. Penelitian ekonomi tentang imunisasi influenza pada orang umur ≥65 tahun yang dilakukan di Amerika Serikat melaporkan mengenai biaya yang dihemat dan pengurangan angka perawatan di rumah sakit dan kematian.1
Penelitian pada orang dewasa umur <65>cost-effectiveness memperkirakan penghematan rata-rata sebesar US$60-4000 per sakit diantara orang sehat umur 18-64 tahun, hal itu bergantung pada harga imunisasi, tingkat serangan influenza, dan efektivitas vaksin melawan sakit yang menyerupai influenza. Penelitian lain memperkirakan penghematan sebesar US$13,66/orang yang diimunisasi/tahun. Pada penelitian ini 78% dari biaya yang dihemat termasuk hilangnya produktivitas kerja, tetapi pada penelitian pertama tidak memasukkannya.1
Penelitian ekonomi yang spesifik mengevaluasi cost-effectiveness imunisasi pada orang berusia 50-64 tahun tidak ada dan hanya sedikit penelitian yang mengevaluasi tentang imunisasi rutin pada anak. Tetapi pada satu penelitian yang meliputi semua kelompok umur didapatkan hasil bahwa cost-utility meningkat sesuai dengan peningkatan umur dan di antara orang yang sakit kronik. Pada orang umur ≥65 tahun, imunisasi menyebabkan penghematan sebesar $23-256/QALY(Quality Adjusted Life Year) pada kelompok umur yang lebih muda.1
Sedangkan di Indonesia belum dapat dihitung cost-effectiveness karena belum ada data nasional tentang penyakit influenza beserta komplikasinya maupun imunisasi influenza. Saat ini pelaksanaan imunisasi influenza untuk pasien haji di Indonesia, biaya masih dibebankan kepada jamaah dengan harga ± Rp. 150.000,00.13
IV.6. Efek Samping
Efek samping yang sering adalah nyeri pada lokasi suntikan. Selain itu juga dapat ditemukan demam, malaise dan mialgia. Efek samping ini dapat terjadi beberapa jam setelah imunisasi dan menghilang setelah 1-2 hari. Pada anak <5> Kejadian ikutan pascaimunisasi sistemik akut seperti anafilaksis, angio-edema, asma dan urtikaria jarang terjadi. Gejala tersebut timbul sebagai respons alergik terhadap komponen residu proses pembuatan, terutama protein telur. 1,2,4-12
Pada tahun 1976 vaksin influenza swine produksi Amerika Serikat, dihubungkan dengan peningkatan frekuensi penyakit sindrom Guillain Barre (SGB) pada orang lanjut usia, prevalensinya sekitar 1-2 orang per 100.000 populasi dewasa. Namun penelitian yang lebih baru pada tahun 1992-1994 menunjukkan tidak ada hubungan antara imunisasi influenza dengan insidens SGB, kemungkinan dapat terjadi pada satu kasus SGB dari satu juta orang dewasa yang diimunisasi. 1
IV.7. Kontraindikasi
· Individu yang memiliki hipersensitivitas anafilaksis terhadap telur, termasuk bila setelah makan telur timbul bengkak di bibir atau lidah atau pernah mengalami distress pernapasan akut atau pingsan.
· Individu dengan hipersensitivitas terhadap komponen vaksin.
· Individu dengan demam akut >38,5°C, imunisasi harus ditunda sampai gejala menghilang. Tetapi gejala yang ringan dengan atau tanpa demam bukan merupakan kontraindikasi imunisasi.
· Pasien dengan riwayat Sindrom Guilain-Barre (SGB) sebelum imunisasi influenza mempunyai risiko lebih besar dari pada pasien yang tidak mempunyai riwayat SGB untuk timbul kembali SGB setelah imunisasi influenza. 1,2,4-10
REKOMENDASI
Berdasarkan hasil kajian diatas maka disusun rekomendasi sebagai berikut:
I. Perlu dilakukan penelitian/surveilans tentang insidens, morbiditas dan mortalitas penyakit influenza atau influenza-like illness, cost-effectiveness imunisasi influenza serta pemetaan strain virus influenza di Indonesia. (Rekomendasi C)
II. Sementara sebelum ada hasil penelitian di Indonesia, berdasarkan hasil kajian kepustakaan tim ahli merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
· Vaksin influenza tidak diberikan rutin kepada setiap orang.
· Imunisasi influenza sebaiknya diberikan kepada orang yang berisiko tinggi, yaitu:
- Orang usia ≥65 tahun.
- Anak usia >6 bulan dan dewasa dengan penyakit kronik kardiovaskular, paru, metabolik termasuk diabetes mellitus dan disfungsi ginjal, dan berbagai tipe penyakit imunodefisiensi termasuk orang dengan AIDS dan resipien transplantasi organ.
- Petugas kesehatan yang kontak erat dengan orang yang berisiko tinggi.
· Imunisasi influenza tidak boleh diberikan kepada:
- Individu yang hipersensitif terhadap telur dan komponen vaksin.
- Individu dengan riwayat Sindrom Guilain-Barre (SGB)
- Individu yang demam dan kehamilan trimester pertama.
· Vaksin influenza diberikan setiap tahun.
(Rekomendasi C)
III. Perlu dilaksanakan evaluasi hasil penggunaan vaksin influenza pada anak, dewasa, usila serta orang yang berpenyakit kronik.
Read More..
TBC Pada Anak, Tanpa Gejala Khas ..
Penularan pada anak biasanya dari orang dewasa yang mempunyai kontak erat dengan anak tersebut. Penularan terjadi melalui droplet (butir-butir air di udara). Selain itu dapat juga tertular melalui luka di kulit dan minum susu sapi yang tidak dipasteurisasi.
Kuman TBC yang masuk ke dalam tubuh manusia tidaklah selalu menimbulkan penyakit TBC, karena di dalam tubuh kita memiliki sistem pertahanan tubuh yang dapat mencegah timbulnya penyakit ini. Masalahnya, terkadang ada kalanya daya tahan tubuh kita mengalami kelemahan, misalnya karena penyakit lain yang sedang diderita atau karena gizi yang buruk. Pada keadaan seperti inilah, ketika kuman TBC masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang cukup banyak dapat menimbulkan infeksi.
Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah jaringan paru-paru, selain itu bisa juga jaringan usus, kulit, hidung, tonsil (amandel), telinga, selaput otak, tulang dan sebaginya. Paru paling sering diserang karena penularan paling sering terjadi melalui udara.
Gejala
Diagnosis pasti TBC anak sulit, karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis-klinis. Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis.
Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.
Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi anak, karena anak harus mengonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati, persyarafan pendengaran dan organ tubuh lainnya.
Seringkali orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC, padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.
Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak Pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan saksama tentang adanya; gejala klinis, kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif), pemeriksaan yang harus dilakukan adalah foto polos dada (roentgen), tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).
Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan, maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).
Penyakit TBC pada anak tidak mempunyai gejala yang khas, bahkan sering tanpa gejala dan baru diketahui adanya kelainan dengan pemeriksaan foto rontgen paru. Namun ada gejala yang sering ditemukan pada anak penderita TBC, di antaranya:
Demam. Biasanya merupakan gejala awal, timbul pada sore dan malam hari disertai keringat dan kemudian mereda. Demam dapat berulang beberapa waktu kemudian.
Lemah dan Lesu (malaise). Gejala ini ditandai dengan rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan bertambah kurus atau berat badan tidak naik. Anak akan berpenampilan lesu dan kurang ceria.
Batuk. Batuk baru timbul bila telah terdapat gangguan di paru, awalnya dapat berupa batuk kering, lama-kelamaan dapat berupa batuk berlendir. Batuknya tetap bertahan lebih dari dua minggu walau telah mendapat pengobatan atau batuk sering berulang lebih dari tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut.
Pembesaran Kelenjar Getah Bening. Kelenjar getah bening yang meruapakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan kuman, dapat membesar bila diserang oleh kuman. Pada penderita TBC dapat ditemui pembesaran kelenjar getah bening di sepanjang leher samping dan di atas tulang selangkangan.
Apabila gejala-gejala tersebut ada dan tidak hilang setelah diobati, sebaiknya waspada akan adanya TBC pada anak, apalagi ada riwayat kontak (hubungan yang erat dan sering) dengan penderita TBC dewasa.
Bila terdapat gejala-gejala yang mencurigakan ke arah TBC, maka segeralah kunjungi dokter untuk memastikan. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan tes mantoux (uji tuberkulin) dengan menyuntikkan zat tuberkulin dan dilihat hasilnya dalam waktu dua sampai tiga hari, apakah di daerah suntikan akan timbul benjolan berwarna merah dengan diameter tertentu dan terasa agak gatal. Bila ini ada berarti anak tersebut positif terinfeksi TBC. Apalagi bila didukung oleh hasil foto rontgen paru yang disebut sebagai vlek atau infiltrat.
Pemeriksaan dahak agak sulit dilakukan pada anak dan hasilnya kurang memastikan. Bila dari hasil pemeriksaan badan tes mantoux dan foto rontgen paru mendukung adanya penyakit TBC pada anak, maka anak tersebut harus mendapatkan pengobatan anti TBC.
Pengobatan
Pengobatan TBC memakan waktu lama dan membutuhkan kepatuhan serta kedisiplinan tinggi untuk meminum obat yang telah ditentukan, secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu dan tidak boleh terputus, maksudnya jangan sampai terlewatkan satu hari pun tanpa meminum obat antiTBC.
Biasanya obat yang diberikan paling sedikit dua macam dan pengobatan paling cepat dalam waktu enam bulan. Sebaiknya dilakukan kontrol teratur setiap bulan selama pengobatan untuk menilai perbaikan, respons terhadap obat dan kemungkinan efek samping obat.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam memberantas kuman TBC adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh misalnya istirahat yang cukup, makanan bergizi tinggi dan kebersihan lingkungan.
Pencegahan
Bila ibu atau anggota keluarga yang dekat menderita penyakit TBC, maka imunisasi BCG pada bayi yang baru lahir perlu diberikan segera setelah lahir. Namun bila tidak ada anggota keluarga yang terkena, maka imunisasi BCG dapat diberikan sesuai dengan jadwal pemberian posyandu atau puskesmas, yaitu pada usia dua bulan. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sedini mungkin setelah anak lahir. Ini mengingat prevalensi penyakit tuberkulosis di Indonesia masih tinggi dan kekebalan terhadap penyakit itu tidak diturunkan dari ibu karena jenisnya adalah imunitas seluler.
Imunisasi BCG memang tidak menjamin seratus persen terbebas dari kemungkinan tertular penyakit ini, karena daya kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20 persen. Walau demikian imunisasi tetap perlu diberikan karena tetap bermanfaat untuk memperkecil kemungkinan tertular dan memperingan gejala bila terjangkit penyakit TBC.
Karena manfaat vaksin BCG untuk pencegahan penyakit tuberkulosis pada anak rendah, maka pencegahan utama agar anak tidak terkena TBC adalah jangan kontak dengan penderita TBC dewasa. TBC pada anak tidak lepas hubungannya dengan penyakit TBC pada orang dewasa. Ini karena penularan TBC pada anak berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Dengan demikian pemberantasan TBC pada orang dewasa sangat penting. Pada anak yang menderita TBC tidak bisa menularkan TBC, karena di dalam dahaknya tidak mengandung kuman TBC.
Selain itu faktor lingkungan dan daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mencegah terjangkitnya seseorang terhadap penyakit TBC. Sinar matahari yang cukup, sirkulasi udara yang baik akan mencegah pertumbuhan dan bahkan dapat melemahkan kuman TBC. Kuman ini tidak tahan sinar matahari dan ultra violet. Daya tahan tubuh yang baik, gizi yang cukup akan meningkatkan kemampuan badan dalam menangkis serangan kuman TBC.( TBC pada Anak tanpa Gejala Khas Tuberkulosis atau lebih dikenal dengan Tb atau TBC disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang bersumber pada penderita TBC dan Mycobacterium bovis yang terdapat pada susu sapi yang tidak dipasteurisasi. Kedua tipe kuman ini dapat menimbulkan penyakit TBC pada manusia dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Penularan pada anak biasanya dari orang dewasa yang mempunyai kontak erat dengan anak tersebut. Penularan terjadi melalui droplet (butir-butir air di udara). Selain itu dapat juga tertular melalui luka di kulit dan minum susu sapi yang tidak dipasteurisasi.
Kuman TBC yang masuk ke dalam tubuh manusia tidaklah selalu menimbulkan penyakit TBC, karena di dalam tubuh kita memiliki sistem pertahanan tubuh yang dapat mencegah timbulnya penyakit ini. Masalahnya, terkadang ada kalanya daya tahan tubuh kita mengalami kelemahan, misalnya karena penyakit lain yang sedang diderita atau karena gizi yang buruk. Pada keadaan seperti inilah, ketika kuman TBC masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang cukup banyak dapat menimbulkan infeksi.
Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah jaringan paru-paru, selain itu bisa juga jaringan usus, kulit, hidung, tonsil (amandel), telinga, selaput otak, tulang dan sebaginya. Paru paling sering diserang karena penularan paling sering terjadi melalui udara.
Gejala
Diagnosis pasti TBC anak sulit, karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis-klinis. Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis.
Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.
Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi anak, karena anak harus mengonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati, persyarafan pendengaran dan organ tubuh lainnya.
Seringkali orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC, padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.
Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak Pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan saksama tentang adanya; gejala klinis, kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif), pemeriksaan yang harus dilakukan adalah foto polos dada (roentgen), tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).
Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan, maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).
Penyakit TBC pada anak tidak mempunyai gejala yang khas, bahkan sering tanpa gejala dan baru diketahui adanya kelainan dengan pemeriksaan foto rontgen paru. Namun ada gejala yang sering ditemukan pada anak penderita TBC, di antaranya:
Demam. Biasanya merupakan gejala awal, timbul pada sore dan malam hari disertai keringat dan kemudian mereda. Demam dapat berulang beberapa waktu kemudian.
Lemah dan Lesu (malaise). Gejala ini ditandai dengan rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan bertambah kurus atau berat badan tidak naik. Anak akan berpenampilan lesu dan kurang ceria.
Batuk. Batuk baru timbul bila telah terdapat gangguan di paru, awalnya dapat berupa batuk kering, lama-kelamaan dapat berupa batuk berlendir. Batuknya tetap bertahan lebih dari dua minggu walau telah mendapat pengobatan atau batuk sering berulang lebih dari tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut.
Pembesaran Kelenjar Getah Bening. Kelenjar getah bening yang meruapakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan kuman, dapat membesar bila diserang oleh kuman. Pada penderita TBC dapat ditemui pembesaran kelenjar getah bening di sepanjang leher samping dan di atas tulang selangkangan.
Apabila gejala-gejala tersebut ada dan tidak hilang setelah diobati, sebaiknya waspada akan adanya TBC pada anak, apalagi ada riwayat kontak (hubungan yang erat dan sering) dengan penderita TBC dewasa.
Bila terdapat gejala-gejala yang mencurigakan ke arah TBC, maka segeralah kunjungi dokter untuk memastikan. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan tes mantoux (uji tuberkulin) dengan menyuntikkan zat tuberkulin dan dilihat hasilnya dalam waktu dua sampai tiga hari, apakah di daerah suntikan akan timbul benjolan berwarna merah dengan diameter tertentu dan terasa agak gatal. Bila ini ada berarti anak tersebut positif terinfeksi TBC. Apalagi bila didukung oleh hasil foto rontgen paru yang disebut sebagai vlek atau infiltrat.
Pemeriksaan dahak agak sulit dilakukan pada anak dan hasilnya kurang memastikan. Bila dari hasil pemeriksaan badan tes mantoux dan foto rontgen paru mendukung adanya penyakit TBC pada anak, maka anak tersebut harus mendapatkan pengobatan anti TBC.
Pengobatan
Pengobatan TBC memakan waktu lama dan membutuhkan kepatuhan serta kedisiplinan tinggi untuk meminum obat yang telah ditentukan, secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu dan tidak boleh terputus, maksudnya jangan sampai terlewatkan satu hari pun tanpa meminum obat antiTBC.
Biasanya obat yang diberikan paling sedikit dua macam dan pengobatan paling cepat dalam waktu enam bulan. Sebaiknya dilakukan kontrol teratur setiap bulan selama pengobatan untuk menilai perbaikan, respons terhadap obat dan kemungkinan efek samping obat.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam memberantas kuman TBC adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh misalnya istirahat yang cukup, makanan bergizi tinggi dan kebersihan lingkungan.
Pencegahan
Bila ibu atau anggota keluarga yang dekat menderita penyakit TBC, maka imunisasi BCG pada bayi yang baru lahir perlu diberikan segera setelah lahir. Namun bila tidak ada anggota keluarga yang terkena, maka imunisasi BCG dapat diberikan sesuai dengan jadwal pemberian posyandu atau puskesmas, yaitu pada usia dua bulan. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sedini mungkin setelah anak lahir. Ini mengingat prevalensi penyakit tuberkulosis di Indonesia masih tinggi dan kekebalan terhadap penyakit itu tidak diturunkan dari ibu karena jenisnya adalah imunitas seluler.
Imunisasi BCG memang tidak menjamin seratus persen terbebas dari kemungkinan tertular penyakit ini, karena daya kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20 persen. Walau demikian imunisasi tetap perlu diberikan karena tetap bermanfaat untuk memperkecil kemungkinan tertular dan memperingan gejala bila terjangkit penyakit TBC.
Karena manfaat vaksin BCG untuk pencegahan penyakit tuberkulosis pada anak rendah, maka pencegahan utama agar anak tidak terkena TBC adalah jangan kontak dengan penderita TBC dewasa. TBC pada anak tidak lepas hubungannya dengan penyakit TBC pada orang dewasa. Ini karena penularan TBC pada anak berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Dengan demikian pemberantasan TBC pada orang dewasa sangat penting. Pada anak yang menderita TBC tidak bisa menularkan TBC, karena di dalam dahaknya tidak mengandung kuman TBC.
Selain itu faktor lingkungan dan daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mencegah terjangkitnya seseorang terhadap penyakit TBC. Sinar matahari yang cukup, sirkulasi udara yang baik akan mencegah pertumbuhan dan bahkan dapat melemahkan kuman TBC. Kuman ini tidak tahan sinar matahari dan ultra violet. Daya tahan tubuh yang baik, gizi yang cukup akan meningkatkan kemampuan badan dalam menangkis serangan kuman TBC.(berbagai sumber) Read More..



