TBC pada Anak tanpa Gejala Khas Tuberkulosis atau lebih dikenal dengan Tb atau TBC disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang bersumber pada penderita TBC dan Mycobacterium bovis yang terdapat pada susu sapi yang tidak dipasteurisasi. Kedua tipe kuman ini dapat menimbulkan penyakit TBC pada manusia dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Penularan pada anak biasanya dari orang dewasa yang mempunyai kontak erat dengan anak tersebut. Penularan terjadi melalui droplet (butir-butir air di udara). Selain itu dapat juga tertular melalui luka di kulit dan minum susu sapi yang tidak dipasteurisasi.
Kuman TBC yang masuk ke dalam tubuh manusia tidaklah selalu menimbulkan penyakit TBC, karena di dalam tubuh kita memiliki sistem pertahanan tubuh yang dapat mencegah timbulnya penyakit ini. Masalahnya, terkadang ada kalanya daya tahan tubuh kita mengalami kelemahan, misalnya karena penyakit lain yang sedang diderita atau karena gizi yang buruk. Pada keadaan seperti inilah, ketika kuman TBC masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang cukup banyak dapat menimbulkan infeksi.
Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah jaringan paru-paru, selain itu bisa juga jaringan usus, kulit, hidung, tonsil (amandel), telinga, selaput otak, tulang dan sebaginya. Paru paling sering diserang karena penularan paling sering terjadi melalui udara.
Gejala
Diagnosis pasti TBC anak sulit, karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis-klinis. Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis.
Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.
Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi anak, karena anak harus mengonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati, persyarafan pendengaran dan organ tubuh lainnya.
Seringkali orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC, padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.
Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak Pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan saksama tentang adanya; gejala klinis, kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif), pemeriksaan yang harus dilakukan adalah foto polos dada (roentgen), tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).
Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan, maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).
Penyakit TBC pada anak tidak mempunyai gejala yang khas, bahkan sering tanpa gejala dan baru diketahui adanya kelainan dengan pemeriksaan foto rontgen paru. Namun ada gejala yang sering ditemukan pada anak penderita TBC, di antaranya:
Demam. Biasanya merupakan gejala awal, timbul pada sore dan malam hari disertai keringat dan kemudian mereda. Demam dapat berulang beberapa waktu kemudian.
Lemah dan Lesu (malaise). Gejala ini ditandai dengan rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan bertambah kurus atau berat badan tidak naik. Anak akan berpenampilan lesu dan kurang ceria.
Batuk. Batuk baru timbul bila telah terdapat gangguan di paru, awalnya dapat berupa batuk kering, lama-kelamaan dapat berupa batuk berlendir. Batuknya tetap bertahan lebih dari dua minggu walau telah mendapat pengobatan atau batuk sering berulang lebih dari tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut.
Pembesaran Kelenjar Getah Bening. Kelenjar getah bening yang meruapakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan kuman, dapat membesar bila diserang oleh kuman. Pada penderita TBC dapat ditemui pembesaran kelenjar getah bening di sepanjang leher samping dan di atas tulang selangkangan.
Apabila gejala-gejala tersebut ada dan tidak hilang setelah diobati, sebaiknya waspada akan adanya TBC pada anak, apalagi ada riwayat kontak (hubungan yang erat dan sering) dengan penderita TBC dewasa.
Bila terdapat gejala-gejala yang mencurigakan ke arah TBC, maka segeralah kunjungi dokter untuk memastikan. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan tes mantoux (uji tuberkulin) dengan menyuntikkan zat tuberkulin dan dilihat hasilnya dalam waktu dua sampai tiga hari, apakah di daerah suntikan akan timbul benjolan berwarna merah dengan diameter tertentu dan terasa agak gatal. Bila ini ada berarti anak tersebut positif terinfeksi TBC. Apalagi bila didukung oleh hasil foto rontgen paru yang disebut sebagai vlek atau infiltrat.
Pemeriksaan dahak agak sulit dilakukan pada anak dan hasilnya kurang memastikan. Bila dari hasil pemeriksaan badan tes mantoux dan foto rontgen paru mendukung adanya penyakit TBC pada anak, maka anak tersebut harus mendapatkan pengobatan anti TBC.
Pengobatan
Pengobatan TBC memakan waktu lama dan membutuhkan kepatuhan serta kedisiplinan tinggi untuk meminum obat yang telah ditentukan, secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu dan tidak boleh terputus, maksudnya jangan sampai terlewatkan satu hari pun tanpa meminum obat antiTBC.
Biasanya obat yang diberikan paling sedikit dua macam dan pengobatan paling cepat dalam waktu enam bulan. Sebaiknya dilakukan kontrol teratur setiap bulan selama pengobatan untuk menilai perbaikan, respons terhadap obat dan kemungkinan efek samping obat.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam memberantas kuman TBC adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh misalnya istirahat yang cukup, makanan bergizi tinggi dan kebersihan lingkungan.
Pencegahan
Bila ibu atau anggota keluarga yang dekat menderita penyakit TBC, maka imunisasi BCG pada bayi yang baru lahir perlu diberikan segera setelah lahir. Namun bila tidak ada anggota keluarga yang terkena, maka imunisasi BCG dapat diberikan sesuai dengan jadwal pemberian posyandu atau puskesmas, yaitu pada usia dua bulan. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sedini mungkin setelah anak lahir. Ini mengingat prevalensi penyakit tuberkulosis di Indonesia masih tinggi dan kekebalan terhadap penyakit itu tidak diturunkan dari ibu karena jenisnya adalah imunitas seluler.
Imunisasi BCG memang tidak menjamin seratus persen terbebas dari kemungkinan tertular penyakit ini, karena daya kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20 persen. Walau demikian imunisasi tetap perlu diberikan karena tetap bermanfaat untuk memperkecil kemungkinan tertular dan memperingan gejala bila terjangkit penyakit TBC.
Karena manfaat vaksin BCG untuk pencegahan penyakit tuberkulosis pada anak rendah, maka pencegahan utama agar anak tidak terkena TBC adalah jangan kontak dengan penderita TBC dewasa. TBC pada anak tidak lepas hubungannya dengan penyakit TBC pada orang dewasa. Ini karena penularan TBC pada anak berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Dengan demikian pemberantasan TBC pada orang dewasa sangat penting. Pada anak yang menderita TBC tidak bisa menularkan TBC, karena di dalam dahaknya tidak mengandung kuman TBC.
Selain itu faktor lingkungan dan daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mencegah terjangkitnya seseorang terhadap penyakit TBC. Sinar matahari yang cukup, sirkulasi udara yang baik akan mencegah pertumbuhan dan bahkan dapat melemahkan kuman TBC. Kuman ini tidak tahan sinar matahari dan ultra violet. Daya tahan tubuh yang baik, gizi yang cukup akan meningkatkan kemampuan badan dalam menangkis serangan kuman TBC.( TBC pada Anak tanpa Gejala Khas Tuberkulosis atau lebih dikenal dengan Tb atau TBC disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang bersumber pada penderita TBC dan Mycobacterium bovis yang terdapat pada susu sapi yang tidak dipasteurisasi. Kedua tipe kuman ini dapat menimbulkan penyakit TBC pada manusia dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Penularan pada anak biasanya dari orang dewasa yang mempunyai kontak erat dengan anak tersebut. Penularan terjadi melalui droplet (butir-butir air di udara). Selain itu dapat juga tertular melalui luka di kulit dan minum susu sapi yang tidak dipasteurisasi.
Kuman TBC yang masuk ke dalam tubuh manusia tidaklah selalu menimbulkan penyakit TBC, karena di dalam tubuh kita memiliki sistem pertahanan tubuh yang dapat mencegah timbulnya penyakit ini. Masalahnya, terkadang ada kalanya daya tahan tubuh kita mengalami kelemahan, misalnya karena penyakit lain yang sedang diderita atau karena gizi yang buruk. Pada keadaan seperti inilah, ketika kuman TBC masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang cukup banyak dapat menimbulkan infeksi.
Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah jaringan paru-paru, selain itu bisa juga jaringan usus, kulit, hidung, tonsil (amandel), telinga, selaput otak, tulang dan sebaginya. Paru paling sering diserang karena penularan paling sering terjadi melalui udara.
Gejala
Diagnosis pasti TBC anak sulit, karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis-klinis. Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis.
Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.
Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi anak, karena anak harus mengonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati, persyarafan pendengaran dan organ tubuh lainnya.
Seringkali orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC, padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.
Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak Pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan saksama tentang adanya; gejala klinis, kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif), pemeriksaan yang harus dilakukan adalah foto polos dada (roentgen), tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).
Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan, maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).
Penyakit TBC pada anak tidak mempunyai gejala yang khas, bahkan sering tanpa gejala dan baru diketahui adanya kelainan dengan pemeriksaan foto rontgen paru. Namun ada gejala yang sering ditemukan pada anak penderita TBC, di antaranya:
Demam. Biasanya merupakan gejala awal, timbul pada sore dan malam hari disertai keringat dan kemudian mereda. Demam dapat berulang beberapa waktu kemudian.
Lemah dan Lesu (malaise). Gejala ini ditandai dengan rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan bertambah kurus atau berat badan tidak naik. Anak akan berpenampilan lesu dan kurang ceria.
Batuk. Batuk baru timbul bila telah terdapat gangguan di paru, awalnya dapat berupa batuk kering, lama-kelamaan dapat berupa batuk berlendir. Batuknya tetap bertahan lebih dari dua minggu walau telah mendapat pengobatan atau batuk sering berulang lebih dari tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut.
Pembesaran Kelenjar Getah Bening. Kelenjar getah bening yang meruapakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan kuman, dapat membesar bila diserang oleh kuman. Pada penderita TBC dapat ditemui pembesaran kelenjar getah bening di sepanjang leher samping dan di atas tulang selangkangan.
Apabila gejala-gejala tersebut ada dan tidak hilang setelah diobati, sebaiknya waspada akan adanya TBC pada anak, apalagi ada riwayat kontak (hubungan yang erat dan sering) dengan penderita TBC dewasa.
Bila terdapat gejala-gejala yang mencurigakan ke arah TBC, maka segeralah kunjungi dokter untuk memastikan. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan tes mantoux (uji tuberkulin) dengan menyuntikkan zat tuberkulin dan dilihat hasilnya dalam waktu dua sampai tiga hari, apakah di daerah suntikan akan timbul benjolan berwarna merah dengan diameter tertentu dan terasa agak gatal. Bila ini ada berarti anak tersebut positif terinfeksi TBC. Apalagi bila didukung oleh hasil foto rontgen paru yang disebut sebagai vlek atau infiltrat.
Pemeriksaan dahak agak sulit dilakukan pada anak dan hasilnya kurang memastikan. Bila dari hasil pemeriksaan badan tes mantoux dan foto rontgen paru mendukung adanya penyakit TBC pada anak, maka anak tersebut harus mendapatkan pengobatan anti TBC.
Pengobatan
Pengobatan TBC memakan waktu lama dan membutuhkan kepatuhan serta kedisiplinan tinggi untuk meminum obat yang telah ditentukan, secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu dan tidak boleh terputus, maksudnya jangan sampai terlewatkan satu hari pun tanpa meminum obat antiTBC.
Biasanya obat yang diberikan paling sedikit dua macam dan pengobatan paling cepat dalam waktu enam bulan. Sebaiknya dilakukan kontrol teratur setiap bulan selama pengobatan untuk menilai perbaikan, respons terhadap obat dan kemungkinan efek samping obat.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam memberantas kuman TBC adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh misalnya istirahat yang cukup, makanan bergizi tinggi dan kebersihan lingkungan.
Pencegahan
Bila ibu atau anggota keluarga yang dekat menderita penyakit TBC, maka imunisasi BCG pada bayi yang baru lahir perlu diberikan segera setelah lahir. Namun bila tidak ada anggota keluarga yang terkena, maka imunisasi BCG dapat diberikan sesuai dengan jadwal pemberian posyandu atau puskesmas, yaitu pada usia dua bulan. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sedini mungkin setelah anak lahir. Ini mengingat prevalensi penyakit tuberkulosis di Indonesia masih tinggi dan kekebalan terhadap penyakit itu tidak diturunkan dari ibu karena jenisnya adalah imunitas seluler.
Imunisasi BCG memang tidak menjamin seratus persen terbebas dari kemungkinan tertular penyakit ini, karena daya kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20 persen. Walau demikian imunisasi tetap perlu diberikan karena tetap bermanfaat untuk memperkecil kemungkinan tertular dan memperingan gejala bila terjangkit penyakit TBC.
Karena manfaat vaksin BCG untuk pencegahan penyakit tuberkulosis pada anak rendah, maka pencegahan utama agar anak tidak terkena TBC adalah jangan kontak dengan penderita TBC dewasa. TBC pada anak tidak lepas hubungannya dengan penyakit TBC pada orang dewasa. Ini karena penularan TBC pada anak berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Dengan demikian pemberantasan TBC pada orang dewasa sangat penting. Pada anak yang menderita TBC tidak bisa menularkan TBC, karena di dalam dahaknya tidak mengandung kuman TBC.
Selain itu faktor lingkungan dan daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mencegah terjangkitnya seseorang terhadap penyakit TBC. Sinar matahari yang cukup, sirkulasi udara yang baik akan mencegah pertumbuhan dan bahkan dapat melemahkan kuman TBC. Kuman ini tidak tahan sinar matahari dan ultra violet. Daya tahan tubuh yang baik, gizi yang cukup akan meningkatkan kemampuan badan dalam menangkis serangan kuman TBC.(berbagai sumber)
Tuesday, May 12, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment