Tuesday, May 12, 2009

Imunisasi Influenza Untuk Anak, Ternyata Penting lho ..

Kemarin pas nganter si kiko & taro imunisasi ke dokter, aku sempet tanya “koq ada imunisasi influensa dokter ? katanya hanya orang/anak saja yang akan bepergian ke luar negeri”, kepada doketer.”tidak imunisasi influensa sekarang di anjurkan untuk anak di atas 6 bulan”, kata dokter

Daftar imunisasi untuk kedua anakku memang sangat buanyak sekali, memang sih kita harus merogoh kocek lumayan buanyak untuk itu, tapi ibarat pepatah bilang “sedia payung sebelum hujan”, “lebih baik mencegah dari pada mengobati”, aku pikir itu adalah jalan yang lebih arif demi dua buah hati ku ” kiko dan Kitaro”. salah satunya adalah imunisasi Influenza, dan setelah aku baca2 di internet imunisasi ini memang di anjurkan oleh IDAI (ikatan dokter anak indonesia) ini penjelasannya :
I.1. Latar Belakang

Di negara berkembang penyebab kematian terbesar adalah penyakit infeksi. Salah satu usaha pencegahan terhadap timbulnya penyakit infeksi adalah dengan melaksanakan imunisasi. Dari segi ekonomi, pencegahan adalah suatu cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati.

Imunisasi merupakan upaya pencegahan primer yaitu upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat. World Bank menyatakan imunisasi harus menjadi investasi pertama program kesehatan masyarakat bagi pemerintah di seluruh dunia karena merupakan intervensi kesehatan yang paling menguntungkan dari segi biaya. Dan perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi tidak hanya memberikan pencegahan terhadap orang yang diimunisasi, tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan imunitas secara umum di masyarakat.

Di Indonesia sudah digalakkan program imunisasi terutama pada anak yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Di samping itu banyak usaha imunisasi lain yang tidak termasuk dalam PPI (non PPI), salah satunya adalah imunisasi influenza. Imunisasi influenza merupakan salah satu strategi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit influenza. Keuntungan terbesar imunisasi ini adalah bagi orang yang memiliki risiko tinggi menderita influenza berat dan komplikasinya.

Penyakit influenza merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan epidemi maupun pandemi. Di negara subtropis angka kejadian influenza meningkat bahkan dapat menyebabkan kejadian luar biasa hampir setiap musim dingin tiba. Di Amerika Serikat, influenza menyebabkan ±20.000 kematian per tahun. Kelompok penderita influenza terbanyak adalah anak-anak, tetapi komplikasi dan kematian tertinggi terjadi pada orang usia >65 tahun dan orang yang memiliki risiko tinggi. Di Jepang, pelaksanaan program imunisasi influenza pada anak sekolah mencegah 37.000-49.000 kematian per tahun, atau sekitar 1 kematian untuk setiap 420 anak yang diimunisasi. Program tersebut juga mengurangi angka transmisi infeksi dalam masyarakat.1-3

Pada anak usia 0-4 tahun, angka rawat inap rumah sakit adalah 1:1000 anak sehat dan 1:2000 anak dengan penyakit dasar. Angka rawat inap rumah sakit pada bayi sama dengan orang usia >65 tahun. Rata-rata rawat inap akibat influenza adalah 114.000 per tahun, >50% pasien adalah usia <65>65 tahun, anak-anak kecil, dan orang dengan penyakit dasar inilah yang mendorong Advisory Committe on Immunization Practices (ACIP) terakhir pada tahun 2002 menyusun rekomendasi mengenai imunisasi influenza.1,2

Imunisasi influenza cukup bermanfaat, namun sosialisasi penerapan imunisasi ini di masyarakat hanya sedikit meningkatkan penggunaan vaksin. Penyakit influenza oleh banyak orang dianggap penyakit yang ringan, sedangkan influenza pada kelompok risiko tinggi dapat menyebabkan komplikasi dan kematian. Setelah menyadari keadaan ini, maka pada tahun 1999 American Family of Physician (AFP) menurunkan umur penggunaan imunisasi mulai pada usia 50 tahun sedangkan The Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP) juga merekomendasikan imunisasi dimulai pada usia 50 tahun.1
I.2. Permasalahan

Di Indonesia imunisasi influenza sudah dilakukan, namun pemberiannya masih terbatas kepada para jamaah haji sebelum berangkat ke Arab Saudi, sesuai dengan anjuran dari Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI pada tahun 2000. Imunisasi influenza pada jamaah haji hanya dianjurkan pada kelompok berisiko tinggi tertentu saja, seperti jamaah usia >65 tahun, memiliki penyakit jantung, paru kronik, diabetes mellitus dan jamaah yang sistem imunnya terganggu.

Sampai saat ini belum terdapat laporan resmi regional maupun nasional mengenai insidens, angka morbiditas dan mortalitas influenza karena sebagian besar orang masih menganggap bahwa influenza merupakan penyakit yang ringan. Imunisasi influenza masih merupakan suatu kontroversi baik dari waktu pemberian, sasaran pemberian maupun cost effectiveness bila diterapkan di Indonesia.

Dalam rekomendasi yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam Buku Imunisasi di Indonesia, imunisasi diberikan pada anak dengan kelainan jantung bawaan serta penyakit kronik lainnya, serta yang mendapat terapi imunosupresif. Konsensus Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menganjurkan penggunaan imunisasi influenza pada orang yang berusia 50 tahun atau lebih atau pada orang lebih muda yang mempunyai penyakit kronik. Hal itulah yang mendorong dilakukannya kajian tentang imunisasi influenza bagi anak dan dewasa, sebagaimana himbauan WHO kepada negara yang belum memiliki kebijakan nasional imunisasi influenza tentang pengaruh epidemi influenza terhadap perekonomian sebagai dasar menetapkan kebijakan pencegahan influenza.
II.1. Etiologi

Virus influenza adalah virus RNA, termasuk famili Orthomyxovirus, berantai tunggal dan berbentuk heliks. Sesuai dengan antigen dasarnya dibagi menjadi tiga tipe yaitu A, B dan C. Virus ini dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan antigen permukaannya yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Tiga tipe hemaglutinin yang ada pada manusia (H1, H2, H3) berperan dalam penempelan virus pada sel. Dua tipe neuraminidase (N1, N2) berperan dalam penetrasi virus ke dalam sel.1,2,4-10 Variasi kedua glikoprotein eksternal H dan N, adakalanya berubah secara periodik, hal ini menyebabkan perubahan antigenitas. Antigenic shift merupakan perubahan besar (major) salah satu antigen permukaan (H atau N), yang dapat menyebabkan pandemi. Antigenic drift merupakan perubahan kecil (minor) pada antigen permukaan yang timbul diantara major shift dan bisa dihubungkan dengan epidemi (Pickering dkk., 2000).1,2, 4-12

Infuenza tipe A menyebabkan penyakit sedang-berat dan dapat menyerang semua umur. Virus ini menyerang manusia dan binatang lain, seperti babi dan burung. Influenza tipe B biasanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada tipe A, dan terutama menyerang anak-anak. Influenza tipe B lebih stabil daripada influenza tipe A, dengan sedikit antigenic drift dan menyebabkan imunitas yang cukup stabil. Virus ini hanya menyerang manusia. Influenza tipe C dilaporkan jarang menyebabkan sakit pada manusia, kemungkinan karena sebagian besar kasus bersifat subklinis dan tidak menyebabkan epidemi.1,2,4-12

Virus influenza mempunyai kemampuan untuk merubah antigen. Perubahan antigen ini sering terjadi pada influenza tipe A, tetapi kurang pada tipe B, dan tidak pernah pada tipe C. Perubahan ini terjadi pada antigen permukaannya yaitu H dan N.

Terdapat dua macam mutasi tergantung besar atau kecilnya perubahan RNA, yaitu:
Antigenic shift, hanya terjadi pada influenza tipe A; perubahan genetik yang besar dan mendadak pada HA dan/atau NA; tidak ada imunitas di masyarakat; mengakibatkan pandemi setiap 10-40 tahun sekali Antigenic drift, hanya terjadi pada influenza tipe A dan B; terjadi setiap 1 atau beberapa tahun dalam satu subtipe; mutasi p2222ada asam amino RNA; tidak menghasilkan subtipe baru; dan dapat menyebabkan terjadinya epidemi

Nomenklatur untuk mendeskripsikan tipe virus influenza adalah berurutan sebagai berikut: (1) tipe virus, (2) tempat dimana virus pertama kali diisolasi, (3) nomor strain, (4) tahun isolasi, (5) subtipe virus.1,2
II.2. Epidemiologi

Influenza timbul di seluruh bagian dunia dan mengenai 10-20% dari total populasi dunia. Manusia adalah satu-satunya reservoir untuk influenza tipe B dan C, sedangkan influenza tipe A dapat menginfeksi manusia dan binatang. Tidak ada yang disebut sebagai karier kronik. Influenza ditularkan melalui droplet dari orang yang terinfeksi. Cara penularan lain yang jarang adalah melalui kontak erat.1,2,4,5

Aktivitas influenza timbul terutama pada musim dingin dan mencapai puncaknya dari Desember sampai Maret di daerah yang beriklim subtropis, tetapi dapat pula timbul lebih awal atau lebih lambat. Selama tahun 1976-2001, di Amerika Serikat aktivitas puncak timbul paling sering pada bulan Januari (24%) dan Februari (40%) dan rata-rata terjadi 20.000 kematian per tahun. Pada daerah tropis influenza dapat timbul setiap saat selama setahun. 1,2

Influenza juga dapat menyebabkan pandemi bila angka morbiditas dan mortalitas komplikasi akibat influenza meningkat secara bermakna di seluruh dunia. Influenza dapat menyerang semua kelompok umur. Angka kejadian infeksi tertinggi adalah pada anak-anak, sedangkan angka kejadian penyakit serius dan kematian tertinggi adalah pada orang usia ≥65 tahun dan orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza.1,2 Pada anak usia 0-4 tahun, angka perawatan rumah sakit adalah 1:2000 orang yang berisiko tinggi dan 1:1000 orang yang tidak berisiko tinggi. Dalam kelompok usia 0-4 tahun, angka perawatan rumah sakit tertinggi adalah anak umur 0-1 tahun dan angka ini sama dengan angka yang ditemukan pada orang usia ≥65 tahun.1,2

Selama epidemi influenza tahun 1969-1970 sampai 1994-1995, angka perawatan rumah sakit di Amerika Serikat berkisar antara 16.000 sampai 220.000 per epidemi, rata-rata 114.000 per tahun perawatan, dengan 57% dari yang dirawat adalah usia <65>150 kematian per 100.000 orang usia ≥65 tahun. Lebih dari 90% kematian adalah orang lanjut usia karena pneumonia dan influenza. 1,2
II.3. Patogenesis

Virus influenza masuk ke dalam saluran napas melalui droplet, kemudian menempel dan menembus sel epitel saluran napas di trakea dan bronkus. Infeksi dapat terjadi bila virus menembus lapisan mukosa non-spesifik saluran napas dan terhindar dari inhibitor non-spesifik serta antibodi lokal yang spesifik. Daerah yang diserang adalah sel epitel silindris bersilia. Selanjutnya terjadi edema lokal dan infiltrasi oleh sel limfosit, histiosit, sel plasma dan polimorfonuklear. Nekrosis sel epitel ini terjadi pada hari pertama setelah gejala timbul. Perbaikan epitel dimulai pada hari ke-3 dan ke-5 dengan terlihatnya mitosis sel pada lapisan basal. Respons pseudometaplastik dari epitelium yang undifferentiated timbul. Puncaknya dicapai pada hari ke–9 sampai ke-15 setelah awitan penyakit. Setelah 15 hari, tampak produksi mukus dan silia kembali seperti sediakala. Adanya infeksi sekunder menyebabkan reaksi infiltrasi sel radang lebih luas dan kerusakan pada lapisan sel basal dan membrana basalis lebih hebat, yang akan mengakibatkan terhambatnya regenerasi sel epitel bersilia.8 Kemudian virus bereplikasi di dalam sel pejamu yang menyebabkan kerusakan sel pejamu. Viremia tidak terjadi. Virus terlindung di dalam sekret dari saluran napas selama 5-10 hari.1
II.4. Manifestasi Klinis

Masa inkubasi biasanya hanya 2 hari, tetapi dapat bervariasi antara 1 sampai 5 hari. Tingkat keparahan influenza tergantung pada riwayat imunologik terdahulu dengan antigen varian virus. Secara umum, hanya 50% dari orang yang terinfeksi influenza akan timbul gejala klinis klasik influenza.

Penyakit influenza klasik ditandai dengan demam, mialgia, sakit tenggorokan, dan batuk yang tidak produktif secara tiba-tiba. Demam berkisar antara 38,3-38,9°C. Gejala demam muncul secara mendadak sehingga pasien dapat memberitahukan waktu yang tepat kapan demam muncul. Mialgia terutama dirasakan di otot punggung. Batuk terjadi sebagai akibat destruksi epitel trakea. Gejala tambahan lain dapat berupa rinorea, sakit kepala, rasa terbakar substernal dan gejala okular (nyeri dan sensitif terhadap cahaya).1,2,8

Gejala sistemik dan demam biasanya berlangsung selama 2–3 hari, jarang yang lebih dari 5 hari. Gejala akan berkurang dengan pemberian asetosal atau asetaminofen. Asetosal tidak boleh diberikan pada bayi, anak-anak, maupun remaja karena risiko terjadinya sindrom Reye setelah infeksi influenza. Penyembuhan biasanya cepat, tetapi beberapa orang akan menjadi astenia dan depresi selama beberapa minggu.1,2,8
II.5. Diagnosis

Diagnosis influenza ditegakkan berdasarkan karakteristik manifestasi klinis, terutama jika telah dilaporkan adanya influenza dalam masyarakat. Pemeriksaan laboratorium rutin kurang berperan dalam menegakkan diagnosis banding influenza dengan penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus lain. Pada anak, manifestasi pemeriksaan darah bervariasi, bahkan pada bayi tampak gambaran leukositosis. Foto toraks bermanfaat untuk menyatakan adanya penyulit pneumonia lobaris atau interstisial.1,2,8

Diagnosis pasti influenza bergantung pada isolasi atau deteksi komponen virus dari sekret saluran napas atau adanya kenaikan yang bermakna titer antibodi serum pada masa penyembuhan. Diagnosis serologik yang cukup menjanjikan adalah pengukuran antibodi terhadap hemaglutinin influenza dengan menggunakan metode ELISA. Uji ini sederhana dan mempunyai kelebihan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgA, IgM dan IgG.1,2,8
II.6. Komplikasi

Komplikasi sering terjadi pada bayi, anak kecil, anak dengan risiko tinggi dan orang lanjut usia. Komplikasi yang paling sering adalah pneumonia, terutama pneumonia bakteri (karena Streptoccocus pneumoniae, Haemophilus infuenzae, atau Staphyloccus aureus). Pneumonia virus primer merupakan komplikasi yang jarang ditemui namun tingkat fatalitasnya tinggi. Sindrom Reye adalah komplikasi yang mungkin timbul pada anak yang mendapatkan asetosal, terutama berhubungan dengan influenza tipe B, ditandai dengan muntah yang berat dan penurunan kesadaran sampai koma karena edema otak. Komplikasi lain adalah miokarditis, perburukan bronkitis kronik dan penyakit paru kronik lainnya. Angka kematian adalah 0,5–1 per 1000 kasus. Sebagian besar kematian terjadi pada usia ≥65 tahun.1,2,4-10
IV.1. Karakteristik

Vaksin influenza yang tersedia di Amerika Serikat berisi virus influenza inaktif. Terdapat empat macam vaksin yaitu whole-killed virus, attenuated-live virus, split-virus dan disrupted-virus vaccine. Hanya vaksin disrupted dan split virus yang tersedia di Amerika Serikat. Vaksin ini disiapkan dengan menggunakan pelarut organik atau detergen. Split vaksin menyebabkan reaksi samping yang lebih sedikit dibandingkan whole-killed virus vaccine. Selama 20 tahun terakhir telah dikembangkan jenis vaksin lain yaitu cold attenuated live vaccine. Vaksin ini digunakan secara luas di Rusia untuk orang dewasa.1,2,4-12

Formula vaksin influenza diperbaharui tiap tahun sehingga perubahan komposisi dapat dilakukan menyesuaikan dengan antigenic shift dan antigenic drift. Saat ini vaksin influenza yang tersedia mengandung tiga virus inaktif yaitu dua tipe A (H3N2 dan H1N1) dan satu tipe B. Vaksin ini mengandung 15 ug antigen hemaglutinin masing-masing strain virus per 0,5 ml. Selain itu vaksin influenza juga mengandung thimerosal sebagai pengawet dan protein telur. Vaksin influenza yang tersedia di dunia ada dalam berbagai nama dagang antara lain Fluvax®-CSL, Vaxigrip®-AP, Fluarix®-GSK, Fluvirin®-Medeva Agripal-Chiron, sebagian sudah terdaftar di Indonesia.4

Terdapat dua tipe vaksin yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu untuk belahan bumi Utara dan Selatan. Komposisi vaksin influenza utara dan selatan untuk musim influenza November 2003 - April 2004 (belahan bumi Utara) dan Mei 2003 - Oktober 2003 (belahan bumi Selatan) harus terdiri dari strain A/New Caledonia/20/99(H1N1)-like virus, A/Moscow/10/99(H3N2)-like virus dan B/HongKong/330/2001-like virus.14
IV.2. Kelompok Target

Orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi karena infeksi influenza, yaitu: orang berusia ≥65 tahun, orang yang tinggal menetap pada rumah perawatan dan fasilitas perawatan jangka panjang lainnya yang merawat orang dengan penyakit kronik, dewasa dan anak-anak dengan kelainan kronik sistem pernapasan atau kardiopulmonal, termasuk asma, dewasa dan anak-anak yang memerlukan pemeriksaan medis teratur atau perawatan rumah sakit sebelumnya akibat penyakit metabolik kronik (termasuk diabetes mellitus), disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau imunosupresan (termasuk imunosupresan karena obat-obatan, virus HIV), anak-anak dan remaja (usia 6 bulan–18 tahun) yang mendapat terapi asetosal jangka panjang, yang mungkin berisiko menderita sindrom Reye setelah infeksi influenza, wanita yang memasuki usia kehamilan trimester kedua atau ketiga pada saat musim influenza.1,2,4-11

Orang usia <65>karena dalam kelompok ini prevalensi orang yang berisiko tinggi meningkat, dan masih rendahnya angka imunisasi. Strategi imunisasi berdasarkan umur lebih berhasil meningkatkan cakupan vaksin daripada berdasarkan kondisi medis. Orang usia 64 tahun tanpa risiko tinggi juga mendapat keuntungan dari imunisasi, yaitu penurunan angka sakit influenza, penurunan absensi kerja, dan penurunan kunjungan berobat dan pengobatan. Sedangkan usia 50 tahun merupakan usia dimana pelayanan pencegahan lain dimulai, sedangkan penilaian rutin imunisasi dan pelayanan pencegahan lain telah direkomendasikan.1,2,4-11

Orang yang dapat menularkan influenza kepada orang dengan risiko tinggi. Orang yang terinfeksi baik secara klinis maupun subklinis dapat menularkan virus influenza kepada orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza. Mengurangi penularan influenza dari perawat kepada orang dengan risiko tinggi dapat mengurangi kematian yang berhubungan dengan influenza diantara orang dengan risiko tinggi.


Kelompok yang sebaiknya diimunisasi adalah:

Ø Dokter, perawat, dan tenaga lain di rumah sakit dan rawat jalan, termasuk tenaga di gawat darurat (seperti paramedis dan teknisi)

Ø Karyawan rumah perawatan dan fasilitas perawatan jangka panjang yang kontak erat dengan pasien atau orang yang tinggal

Ø Karyawan yang membantu atau tinggal dengan orang yang termasuk kelompok risiko tinggi

Ø Orang yang menyediakan perawatan rumah kepada orang yang termasuk kelompok risiko tinggi

Ø Anggota keluarga (termasuk anak-anak) dari orang yang termasuk kelompok risiko tinggi

Karena anak usia 0-23 bulan berisiko tinggi dirawat akibat influenza, imunisasi dianjurkan bagi orang yang kontak erat dengannya, terutama yang kontak dengan bayi usia 0-5 bulan karena vaksin influenza belum dibuktikan penggunaannya bagi usia <6>Food and Drug Administration.1,2,4-11

Imunisasi untuk populasi spesifik

· Wanita hamil

Karena meningkatnya risiko komplikasi yang berhubungan dengan influenza, wanita yang usia kehamilannya di luar trimester pertama (>14 minggu usia kehamilan) selama musim influenza sebaiknya diimunisasi. Pada trimester pertama kehamilan sebaiknya tidak diberikan imunisasi.1,2

· Orang dengan HIV

Pemberian vaksin influenza inaktif pada orang yang terinfeksi HIV yang memiliki gejala gejala AIDS minimal dan hitung sel limfosit-T CD4+ >200 menunjukkan adanya titer antibodi substansial melawan influenza .1,2

· Ibu menyusui

Vaksin influenza aman dan efektif untuk ibu menyusui dan tidak berpengaruh terhadap bayinya.1,2

· Orang yang bepergian

Risiko terpajan influenza selama bepergian tergantung pada waktu dan tujuan. Orang dengan risiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza yang akan bepergian ke daerah yang sedang musim dingin sebaiknya diimunisasi.

IV.3. Jadwal dan Cara Pemberian

Vaksin influenza diberikan secara intramuskular di otot deltoid pada orang dewasa dan anak yang lebih besar sedangkan untuk bayi dapat diberikan di paha anterolateral.1,2,4-10 Vaksin diberikan dua kali, dengan interval minimal 4 minggu, pada anak usia >9 tahun diberikan satu kali selanjutnya diulang sekali setiap tahun. Pada anak atau dewasa dengan gangguan imun, diberikan 2 dosis setiap tahun dengan interval minimal 4 minggu, untuk mendapatkan antibodi yang memuaskan. Berikut ini adalah jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh berbagai negara di dunia (Tabel 1, 2, 3).

Tabel 3. Dosis imunisasi influenza di Australia4

Umur

Dosis

Jumlah dosis

6 bulan - 2 tahun

0,125 ml

1 atau 2*

2 - 6 tahun

0,25ml

1 atau 2*

6 - 9 tahun

0,5 ml

1 atau 2*

>9tahun

0,5 ml

1

* Dosis kedua minimal berjarak 1 bulan dari dosis pertama direkomendasikan bagi anak umur <9>

Tabel 4. Dosis imunisasi influenza di Kanada5

Kelompok Umur

Tipe vaksin

Dosis vaksin

Jumlah dosis

6 - 35 bulan

Split virus

0,25 ml

1 atau 2*

3 - 8 tahun

Split virus

0.5 ml

1 atau 2*

≥ 9 tahun

Split virus

0.5 ml

1

* Anak umur <9>


Tabel 5. Dosis imunisasi influenza di Amerika Serikat2

Kelompok Umur

Produk

Dosis vaksin

Jumlah dosis

6 – 35 bulan

Split virus

0.25 ml

1 * atau 2

3 – 8 tahun

Split virus

0.50 ml

1* atau 2

≥ 9 tahun

Split virus

0.50 ml

1

* Hanya perlu satu dosis saja bila sebelumnya telah menerima vaksin influenza pada musim influenza sebelumnya.

Di negara subtropis, seperti Australia dan Amerika Serikat, waktu imunisasi yang paling tepat adalah pada musim gugur untuk mengantisipasi kejadian luar biasa (outbreaks) influenza pada musim dingin, tetapi imunisasi pula dapat dilakukan pada bulan Februari. Pada musim gugur kesempatan memberikan imunisasi pada orang yang memiliki risiko tidak boleh terlewatkan bila mereka rajin mengunjungi tempat pelayanan kesehatan. Imunisasi dapat diberikan pada orang dewasa atau anak-anak bahkan setelah adanya aktivitas virus influenza dalam komunitas karena perlindungan dapat dicapai dalam beberapa hari.1,2,4-10

Vaksin influenza dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain termasuk vaksin pneumonia dan semua vaksin yang dijadwalkan untuk anak. Orang dewasa yang telah diimunisasi akan timbul titer antibodi yang cukup memberikan perlindungan terhadap strain virus yang ada di dalam vaksin maupun strain virus lainnya yang masih berhubungan.1,2,4-10

IV.4. Efektivitas

Efektivitas vaksin influenza terutama bergantung pada umur dan status imun penerima, dan derajat kesamaan antara strain virus dalam vaksin dengan jenis virus yang beredar. Sebagian besar anak dan dewasa mempunyai kadar titer antibodi hemaglutinin inhibisi yang cukup tinggi setelah imunisasi. Titer antibodi ini memberikan perlindungan terhadap penyakit yang disebabkan oleh strain virus yang sama dengan vaksin.1

Bayi umur 6 bulan dapat mempunyai titer antibodi yang protektif setelah imunisasi influenza walaupun respons antibodi di antara anak-anak yang berisiko tinggi adalah lebih rendah daripada respons antibodi anak-anak sehat. Pada penelitian randomisasi di antara anak umur 1-15 tahun, vaksin influenza inaktif 77-91% efektif melawan sakit saluran napas akibat influenza, 44-49% efektif pada anak umur 1-5 tahun, 74-76% pada anak umur 6-10 tahun, dan 70-81% pada umur 11-15 tahun. Suatu penelitian melaporkan efikasi vaksin dalam melawan sakit influenza pada anak sehat umur 3-9 tahun adalah 56%. Penelitian lain melaporkan efikasi vaksin untuk anak dengan asma adalah 22-54% pada umur 2-6 tahun dan 60-78% pada umur 7-14 tahun. Penelitian 2-year randomized pada anak umur 6-24 bulan melaporkan bahwa 89% anak mempunyai serokonversi terhadap ketiga strain vaksin selama dua tahun, efikasi vaksin 66% (95%CI = 34% dan 82%) pada tahun pertama diantara 411 anak dan 7% (95% CI= -247 dan 67%) pada tahun kedua diantara 375 anak.1

Bila kesamaan antara virus dalam vaksin dan yang beredar cukup dekat, maka vaksin influenza 70-90% efektif pada orang sehat umur <65>1,2,4,5

Pada orang usia lanjut dan orang dengan penyakit kronik memiliki titer antibodi pasca imunisasi lebih rendah daripada dewasa muda sehat dan dapat tetap rentan terhadap infeksi saluran napas atas yang berhubungan dengan influenza. Satu penelitian randomisasi di antara orang usia ≥60 tahun melaporkan efektivitas vaksin 58% melawan sakit saluran napas akibat influenza. Efektivitas vaksin mungkin lebih rendah pada orang umur ≥70 tahun. Vaksin juga dapat efektif dalam mencegah komplikasi sekunder dan mengurangi risiko perawatan rumah sakit dan kematian akibat influenza. Di antara orang usia lanjut yang tinggal di luar rumah perawatan atau fasilitas perawatan jangka panjang lainnya vaksin influenza 30-70% efektif mencegah perawatan rumah sakit akibat pneumonia dan influenza. Di antara orang usia lanjut yang tinggal di rumah perawatan, vaksin influenza paling efektif mencegah penyakit berat, komplikasi sekunder dan kematian. Di antara populasi tersebut, vaksin 50-60% efektif dalam mencegah perawatan rumah sakit atau pneumonia dan 80% dalam mencegah kematian, sedangkan efektivitas dalam mencegah penyakit influenza berkisar 30-40%.1

Penelitian pada jemaah haji Pakistan pada tahun 1999 (The incidence of vaccine-preventable influenza –like illness and medication use among Pakistan pilgrims to The Haj in Saudi Arabia) berjumlah 2070 subyek menunjukkan efektivitas hanya sebesar 38%. Penelitian lain dikalangan jamaah haji Malaysia pada tahun 2000 (A Case-control study of infuenza vaccine efficacy among Malaysia pilgrim attending the Haj in Saudi Arabia) yang mencakup 1420 subyek menunjukkan efektivitas sebesar 77%.13

IV.5. Cost-effectiveness

Vaksin influenza dapat mengurangi biaya perawatan kesehatan dan produktivitas yang hilang karena sakit influenza. Penelitian ekonomi tentang imunisasi influenza pada orang umur ≥65 tahun yang dilakukan di Amerika Serikat melaporkan mengenai biaya yang dihemat dan pengurangan angka perawatan di rumah sakit dan kematian.1

Penelitian pada orang dewasa umur <65>cost-effectiveness memperkirakan penghematan rata-rata sebesar US$60-4000 per sakit diantara orang sehat umur 18-64 tahun, hal itu bergantung pada harga imunisasi, tingkat serangan influenza, dan efektivitas vaksin melawan sakit yang menyerupai influenza. Penelitian lain memperkirakan penghematan sebesar US$13,66/orang yang diimunisasi/tahun. Pada penelitian ini 78% dari biaya yang dihemat termasuk hilangnya produktivitas kerja, tetapi pada penelitian pertama tidak memasukkannya.1

Penelitian ekonomi yang spesifik mengevaluasi cost-effectiveness imunisasi pada orang berusia 50-64 tahun tidak ada dan hanya sedikit penelitian yang mengevaluasi tentang imunisasi rutin pada anak. Tetapi pada satu penelitian yang meliputi semua kelompok umur didapatkan hasil bahwa cost-utility meningkat sesuai dengan peningkatan umur dan di antara orang yang sakit kronik. Pada orang umur ≥65 tahun, imunisasi menyebabkan penghematan sebesar $23-256/QALY(Quality Adjusted Life Year) pada kelompok umur yang lebih muda.1

Sedangkan di Indonesia belum dapat dihitung cost-effectiveness karena belum ada data nasional tentang penyakit influenza beserta komplikasinya maupun imunisasi influenza. Saat ini pelaksanaan imunisasi influenza untuk pasien haji di Indonesia, biaya masih dibebankan kepada jamaah dengan harga ± Rp. 150.000,00.13

IV.6. Efek Samping

Efek samping yang sering adalah nyeri pada lokasi suntikan. Selain itu juga dapat ditemukan demam, malaise dan mialgia. Efek samping ini dapat terjadi beberapa jam setelah imunisasi dan menghilang setelah 1-2 hari. Pada anak <5> Kejadian ikutan pascaimunisasi sistemik akut seperti anafilaksis, angio-edema, asma dan urtikaria jarang terjadi. Gejala tersebut timbul sebagai respons alergik terhadap komponen residu proses pembuatan, terutama protein telur. 1,2,4-12

Pada tahun 1976 vaksin influenza swine produksi Amerika Serikat, dihubungkan dengan peningkatan frekuensi penyakit sindrom Guillain Barre (SGB) pada orang lanjut usia, prevalensinya sekitar 1-2 orang per 100.000 populasi dewasa. Namun penelitian yang lebih baru pada tahun 1992-1994 menunjukkan tidak ada hubungan antara imunisasi influenza dengan insidens SGB, kemungkinan dapat terjadi pada satu kasus SGB dari satu juta orang dewasa yang diimunisasi. 1

IV.7. Kontraindikasi

· Individu yang memiliki hipersensitivitas anafilaksis terhadap telur, termasuk bila setelah makan telur timbul bengkak di bibir atau lidah atau pernah mengalami distress pernapasan akut atau pingsan.

· Individu dengan hipersensitivitas terhadap komponen vaksin.

· Individu dengan demam akut >38,5°C, imunisasi harus ditunda sampai gejala menghilang. Tetapi gejala yang ringan dengan atau tanpa demam bukan merupakan kontraindikasi imunisasi.

· Pasien dengan riwayat Sindrom Guilain-Barre (SGB) sebelum imunisasi influenza mempunyai risiko lebih besar dari pada pasien yang tidak mempunyai riwayat SGB untuk timbul kembali SGB setelah imunisasi influenza. 1,2,4-10

REKOMENDASI

Berdasarkan hasil kajian diatas maka disusun rekomendasi sebagai berikut:

I. Perlu dilakukan penelitian/surveilans tentang insidens, morbiditas dan mortalitas penyakit influenza atau influenza-like illness, cost-effectiveness imunisasi influenza serta pemetaan strain virus influenza di Indonesia. (Rekomendasi C)

II. Sementara sebelum ada hasil penelitian di Indonesia, berdasarkan hasil kajian kepustakaan tim ahli merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

· Vaksin influenza tidak diberikan rutin kepada setiap orang.

· Imunisasi influenza sebaiknya diberikan kepada orang yang berisiko tinggi, yaitu:

- Orang usia ≥65 tahun.

- Anak usia >6 bulan dan dewasa dengan penyakit kronik kardiovaskular, paru, metabolik termasuk diabetes mellitus dan disfungsi ginjal, dan berbagai tipe penyakit imunodefisiensi termasuk orang dengan AIDS dan resipien transplantasi organ.

- Petugas kesehatan yang kontak erat dengan orang yang berisiko tinggi.

· Imunisasi influenza tidak boleh diberikan kepada:

- Individu yang hipersensitif terhadap telur dan komponen vaksin.

- Individu dengan riwayat Sindrom Guilain-Barre (SGB)

- Individu yang demam dan kehamilan trimester pertama.

· Vaksin influenza diberikan setiap tahun.

(Rekomendasi C)

III. Perlu dilaksanakan evaluasi hasil penggunaan vaksin influenza pada anak, dewasa, usila serta orang yang berpenyakit kronik.


No comments:

Post a Comment

 

My Blog List

Term of Use

Kiko & Kitaro Webblog Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino